Skip to main content

7 Alasan mengapa orang meninggalkan gereja

One disappointment I have had in ministry is watching people come to church, get excited for a time, then disappear. You spend energy and heart on people, grow to love them and get excited about them, and suddenly they are nowhere to be found.
The biggest disappointment is not people who transfer to another church. I’m okay with that if it helps them better grow in their relationship with Christ. I’m talking about people who quit going to church altogether. They are in one day—out the next.
What happens to them? Why do they leave?
I’ve found there are often similar reasons that are repeated continuously. Perhaps you have seen this, too.
Here are 7 reasons people disappear from church:
Burn out - These people came out of the gate too strong in the church. They showed up, got excited, and signed up for everything. They got so busy doing church they failed to enjoy being the church.
Injury - People inside the church can be cruel. I hate when that happens, but it’s true. These people experienced some of those people, and they couldn’t move past it.
Distractions - These people got distracted by seemingly good things. They were playing travel ball, loving the fast life, traveling every weekend. Over time, their lifestyle of attending becomes the habit of not attending.
Life change – These people had a lifestyle change, such as divorce or re-marriage—or they move to a new community—and never re-connect with a church.
Mistakes - These people messed up! They made a mistake that may be public—or at least they feel that it will be known—and the place that should dispense grace appears either refuses it or they feel that it would. Many times when a person feels that way it is more perception than reality, but the way a person feels about themselves may determine whether they remain committed to church.
Power struggle – These people had an agenda. They were pursuing an issue—or a position—and when their demands weren’t met and they couldn’t overpower the system, they left.
Lack of connection – These people never connected with others on a deeper level. As a result, they never felt really a “part” of the church.
Pastors, have you experienced these walking with people in ministry? How do you address these issues?
Obviously, we need to do all we can to help people become disciples. Knowing why they leave may be helpful. We can’t address some of these issues—maybe most—much of this is out of our control. But the more we understand the more we can help people as they experience these.
I think there is also a word here to the one who has disappeared or is on the verge. Beware. If you feel the need for the church in your life—or if you understand the Biblical mandate to be a part of a Body of believers—then guard your heart for these. And help us know how to be a better church. In fact, come help us be a better church. Here’s one pastor (and I know so many others) who is listening.
What other reasons would you add to my list?

Comments

Popular posts from this blog

SENTUHAN KUASA KASIH: 1 KORINTUS 13

Salah satu pasal termasyhur dalam Alkitab jelas adalah 1 Korintus 13 -- "Pasal Kasih" yang terkenal itu. Di pasal ini, kita bisa melihat dengan jelas tiga bagian penting yang mengajarkan umat Tuhan dalam memahami kasih yang sejati: motivasi, karakter, dan kekekalan kualitas kasih. Motivasi Kasih (1 Korintus 13:1-3) Apa gunanya perbuatan besar dan dahsyat jika tidak ada kasih yang melatarbelakanginya. Banyak orang tidak akan setuju perlunya memeriksa motivasi dari apa yang kita sebut perbuatan baik. Banyak orang mengklaim bahwa karisma, pengetahuan, dan pengorbanan adalah sama dengan kasih. Tetapi masing-masing hal itu perlu diperiksa seperti seperti yang pasal ini sudah lakukan. Fasih Berbicara Walaupun seseorang sangat pandai berbicara, sopan, atau menghibur yang mendengarkan, tanpa kasih, dia akan menggunakan lidahnya untuk tujuan pribadinya. Meskipun ribuan orang akan terkesan, tergerak, dan tersentuh, namun perkataannya sama saja dengan bunyi gong. Dengan...

MERDEKA ATAU MATI

MERDEKA  ATAU MATI Kata yang menggetarkan dada ketika terjadi perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia  oleh para pejuang  adalah kata “ Merdeka atau mati”. Hanya ada satu pilihan pada waktu itu “merdeka atau mati”.  Dan kata itu sungguh menjadikan sarana membakar semangat juang yang tidak habis-habisnya. Mereka dengan senjata seadanya  berani terjun ke kancang peperangan dengan persenjataan  penjajah yang super canggih pada jamannya. Dan ternyata perjuangan yang membara itu tidak sia-sia. Kemerdekaan itu bisa diperoleh oleh bangsa Indonesia. Dan pernyatakan proklamasi adalah sebuah pernyataan yang  bergema di setiap dada bangsa Indonesia, apapun sukunya, apapun agamanya bahwa Indonesia sudah merdeka. Seorang veteran yang sudah tua bercerita dengan tersenyum sebuah kelucuan, ketika mendengar  bahwa Indonesia sudah merdeka dari penjajahan. Ada sebagian yang mengartikan merdeka itu dengan arti yang sangat sempit. Mereka mengartikan kalau na...

Bahan SM: Hari Pentakosta

(Oleh: Pdt. Mangapul Sagala) Apakah itu hari Pentakosta? Pentingkah itu bagi orang Kristen? Jika penting, sejauh mana penting? Secara harfiah, kata yang berasal dari bahasa Yunani itu berarti "hari ke-50". Bagi orang Yahudi, hari itu penting dan merupakah sebuah keharusan, sebagaimana diperintahkan oleh Tuhan kepada mereka. Tibanya hari Pentakosta berarti berakhirnya tradisi perayaan selama tujuh minggu, di mana umat Israel merayakan paskah. "Hari raya Tujuh Minggu, yakni hari raya buah bungaran dari penuaian gandum, haruslah kau rayakan, juga hari raya pengumpulan hasil pada pergantian tahun (Kel.34:22). Perlu kita perhatikan bahwa dari sekian banyak perayaan yang dilakukan oleh orang Yahudi, maka hari raya Pentakosta merupakan perayaan terbesar, di mana pada saat itu merupakah hari yang penuh sukacita dan di mana mereka bersyukur kepada Allah atas segala kasih dan pemeliharaanNya, termasuk akan hasil panen tuaian gandum dan jelai. Karena itu, mereka akan datang kepad...