Wednesday, June 18, 2008

Bahan SM: Hari Pentakosta

(Oleh: Pdt. Mangapul Sagala)

Apakah itu hari Pentakosta? Pentingkah itu bagi orang Kristen? Jika penting,
sejauh mana penting?

Secara harfiah, kata yang berasal dari bahasa Yunani itu berarti "hari
ke-50". Bagi orang Yahudi, hari itu penting dan merupakah sebuah keharusan,
sebagaimana diperintahkan oleh Tuhan kepada mereka. Tibanya hari Pentakosta
berarti berakhirnya tradisi perayaan selama tujuh minggu, di mana umat
Israel merayakan paskah. "Hari raya Tujuh Minggu, yakni hari raya buah
bungaran dari penuaian gandum, haruslah kau rayakan, juga hari raya
pengumpulan hasil pada pergantian tahun (Kel.34:22). Perlu kita perhatikan
bahwa dari sekian banyak perayaan yang dilakukan oleh orang Yahudi, maka
hari raya Pentakosta merupakan perayaan terbesar, di mana pada saat itu
merupakah hari yang penuh sukacita dan di mana mereka bersyukur kepada Allah
atas segala kasih dan pemeliharaanNya, termasuk akan hasil panen tuaian
gandum dan jelai. Karena itu, mereka akan datang kepada Allah dengan membawa
korban syukur yang merupakan persembahan mereka kepada Allah, sekaligus
menyatakan pengakuan mereka bahwa segala yang baik yang mereka terima,
berasal dari Allah (baca. Ul.16:11 dan Im.23:17-20).

Jika hari Pentakosta penting bagi orang-orang Yahudi, demikian juga bagi
orang Kristen. Dalam Perjanjian Baru kita membaca narasi dari Kisah Para
Rasul bahwa hari Pentakosta merupakan hari turunnya Roh Kudus, di mana sejak
hari Raya Pentakosta tsb Alkitab menunjukkan bahwa Roh Kudus bekerja secara
penuh di dalam GerejaNya. Ini tidak berarti bahwa Roh Kudus belum bekerja
sebelum hari raya Pentakosta tsb, karena kita dengan jelas membaca dalam
Injil Sinoptik dan Yohanes bahwa Roh Kudus sudah bekerja sebelum itu, baik
pada waktu pembaptisan Yesus, pencobaan di padang gurun, dll (Mat.3:16;
Mark.1:10; Luk.3:21-22; Yoh.1:32-33; Mat.4:1; Luk.4:1). Di dalam Perjanjian
Lama, kita juga membaca bagaimana Roh memimpin para nabi pada saat tertentu
dan ketika mengerjakan tugas tertentu. Namun demikian, Alkitab menjelaskan
bahwa kehadiran dan peran Roh Kudus tidak pernah dialami oleh umat Allah
secara penuh sebagaimana terjadi pada hari Pentakosta, yaitu hari SETELAH
Yesus menyelesaikan karya penyelamatan melalui kematian dan kebangkitannya.
Dalam pemahaman inilah kita memahami pernyataan Injil Yohanes berikut: "...
sebab Roh itu belum datang, karena Yesus belum DIMULIAKAN" (7:39b). Kata
"dimuliakan" sangat menonjol di dalam Injil Yohenes, di mana istilah itu
mengacu kepada kematian Yesus (band. Yoh.12:23-24). Dengan perkataan lain,
Yohanes menegaskan relasi yang erat yang tidak terpisahkan antara karya
Yesus yang telah diselesaikan melalui kematianNya dengan turunnya Roh Kudus
di hari Pentakosta.

Sejauh manakah kita memahami pentingnya Roh Kudus dalam GerejaNya? Alkitab,
khususnya Kisah Para Rasul menunjukkan bahwa turunnya Roh Kudus di hari Raya
Pentakosta sangat penting. Itulah sebabnya, sebagian ahli menafsirkan bahwa
sesungguhnya Gereja yang sejati baru berdiri di hari Pentakosta tsb (Kis.2).
Menurut pandangan ini, Gereja yang sejati baru berdiri SETELAH SELURUH KARYA
YESUS SELESAI. Ini berarti bahwa Gereja yang sejati baru ada ketika ada
umat yang percaya dan mengalami karya penebusan Kristus secara sempurna.
Masa sebelum itu dianggap sebagai masa persiapan Gereja.

Pentingnya hari Pentakosta tersebut dapat dilihat dari penegasan Yesus pada
Kis.1: 4-5. Pada ayat tersebut Tuhan Yesus, di satu pihak melarang
rasul-rasul pergi meninggalkan Yerusalem. Di pihak lain, rasul-rasul
diperintahkan untuk "menantikan janji Bapa" (4). Mengapa? Bukankah dari segi
pengetahuan dan pengalaman, rasul-rasul telah mengenal siapa Yesus
sesungguhnya dan telah hidup bersamaNya selama kira-kira tiga tahun?
Ditinjau dari segi waktu, apakah tidak sebaiknya mereka segera pergi ke
seluruh dunia untuk mengabarkan kabar baik itu sebagaimana tertulis dalam
Mat.28? Benar, rasul-rasul telah mengenal dan hidup bersama Yesus. Mereka
tidak sekedar memiliki pengetahuan teoritis tentang Yesus (bandingkan hal
ini dengan kenyataan adanya theolog-theolog yang kadang kala mengetahui
doktrin yang jelimet tapi kurang atau tidak mengalami perjumpaan pribadi
dengan Yesus). Mereka perlu segera pergi mengabarkan kabar baik itu. Namun
demikian, Yesus melarang mereka karena semua pengetahuan dan pengalaman itu
harus disertai dengan hadirnya Roh Kudus dalam diri mereka. Hal itu
ditegaskan Tuhan Yesus pada Kis.1:8: "Kamu akan menerima KUASA KALAU ROH
KUDUS TURUN KE ATAS KAMU. Dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem...
sampai ke ujung bumi". Itulah sebabnya mereka diperintahkan untuk menantikan
janji Bapa akan turunnya Roh Kudus di hari Pentakosta (Kis.2).

Pernyataan Tuhan Yesus tersebut sangat penting buat kita semua yang mengaku
sebagai orang Kristen. Pertama, kita perlu menghayati kebenaran ini:
Kekristenan tidak dapat dipisahkan dari pengalaman hidup bersama Roh Kudus.
Alkitab bahkan menegaskan bahwa sesungguhnya, hidup baru di dalam Kristus
adalah hidup di DALAM dan DIPIMPIN Roh. Hal ini secara jelas dan tegas
diuraikan oleh rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma (pasal 8).
Rasul Paulus menegaskan bahwa tanpa Roh Kristus, seseorang bukan milik
Kristus (8:9b), dan anak-anak Allah harus dipimpin oleh Roh Allah (8:14).
Jika kita memahami doktrin manusia sebagaimana ditegaskan oleh rasul Paulus,
maka kita akan melihat kemustahilan manusia untuk hidup benar dari dirinya
sendiri. Setelah kejatuhan manusia dalam dosa (Kej.3) Rasul Paulus
menggambarkan manusia dalam kondisi yang sangat mengerikan dan tidak ada
harapan. Manusia bukan saja berdosa, tetapi diperbudak oleh dosa. Karena
itu, mau tidak mau manusia harus berdosa. Non posse non peccare. Not able
not to sin. Dalam keadaan seperti ini, Alkitab menjelaskan bahwa manusia
yang berbuat dosa, sebenarnya bukan karena dia tidak tahu bahwa hal itu
adalah dosa. Juga bukan karena tidak memiliki kerinduan atau keinginan untuk
hidup benar. Saya menemukan adanya orang-orang yang bergumul dengan
kebiasaan-kebiasaan jeleknya, seperti keinginan terlepas dari perjudian,
percabulan, perzinahan, merokok, narkoba, dll. Namun, masalah utama yang
mereka hadapi adalah ketidakberdayaan melawan kuasa dosa yang ada DI DALAM
diri mereka. MAU, TAPI TIDAK MAMPU. Itulah sebabnya, jika kita mengalami
pergumulan seperti itu, kita bersyukur karena ada Roh yang melepaskan kita
dari segala perbudakan dosa tsb. Paulus menyerukan: "Roh yang memberi hidup
telah memerdekakan kamu..." (Ro.8:1). Sama seperti umat Allah di Perjanjian
Lama dengan penuh sukacita merayakan hari Pentakosta atas terlepasnya mereka
dari perbudakan Firaun di Mesir, demikian juga umat Allah di Perjanjian Baru
dengan penuh sukacita dan syukur kepada Allah merayakan hari kelepasan dari
perbudakan dosa. Kiranya kita semua bersorak sorai, penuh sukacita karena
hidup kita yang dimerdekakan, hidup yang terus menerus dibaharui, hidup yang
bertumbuh semakin dewasa di dalam Yesus. Bukankah hidup seperti itu
merupakan ciri kekristenan yang sejati dan tidak dapat dibantah? Tapi, jika
kita masih dibelenggu dosa-dosa tertentu, tidak mengalami kemerdekaan dan
kelepasan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, apa artinya hari raya Pentakosta
tsb?


Selanjutnya, kita juga membaca penegasan Yesus yang sangat penting, yaitu
turunnya Roh Kudus di hari Pentakosta dikaitkan dengan KUASA UNTUK BERSAKSI.
"Dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem, Yudea dan Samaria sampai ke
ujung bumi" (Kis.1:8). Penegasan itu penting, terutama di tengah-tengah
adanya penyalahgunaan akan apa yang disebut dengan kuasa Roh Kudus. Kelompok
tertentu mengajarkan bahwa tanda seseorang dipenuhi Roh Kudus adalah ketika
dia mengalami manifestasi atau tanda-tanda tertentu di dalam hidupnya. Salah
satu tanda yang disebutkan adalah soal berbahasa lidah. Karena itu, bahasa
lidah (Yunani, glossolalia) dijadikan bukti (satu2nya dan bersifat mutlak)
bahwa seseorang itu telah menerima Roh Kudus dalam hidupnya. Secara panjang
lebar, saya telah melawan pengajaran seperti ini dan membuktikannya salah
(lihat buku saya ROH KUDUS DAN KARUNIA-KARUNIA ROH). Seseorang yang dipenuhi
Roh Kudus dapat dilihat dari berbagai hal, antara lain, kerinduannya untuk
hidup kudus, memuji dan memuliakan Tuhan, menjadi berkat bagi sesama dan
bersaksi bagi Yesus, sebagaimana kita baca dalam penegasan Tuhan Yesus pada
Kis.1:8 tsb di atas.

Tugas menjadi saksi tsb tentu sangat penting. Terlebih lagi, menjadi saksi
bagi Yesus, sang Juruselamat dunia, yang di dalam kasih dan kerendahan
hatiNya menyerahkan diriNya bagi umat berdosa. Kita semua memahami apa
artinya menjadi saksi yang benar di dalam sidang pengadilan. Seorang tukang
pos hampir saja menjalani hukuman mati karena dituduh telah membunuh
seorang wanita yang sangat kaya, yang meninggal dunia pada saat dia
mengantarkan surat. Hal itu dibuktikan secara meyakinkan oleh sang suami
dari korban. Tapi hukuman mati tidak jadi dilaksanakan, karena menjelang
hukuman dilaksanakan, pembela menemukan satu bukti penting dari seorang
lumpuh yang hidup mengandalkan kursi roda. Sekalipun orang tersebut
kelihatannya tidak berarti, namun kehadirannya sangat penting di ruang
pengadilan. Semua orang perlu mendengarkannya. Mengapa? Karena dia adalah
saksi mata yang ketepatan menyaksikan bagaimana sang suami bertengkar
dengan istrinya dan kemudian menghabisi nyawanya. Itulah sebabnya, ketika si
lumpuh dengan berani mengatakan apa yang didengar dan dilihatnya, maka
tuduhan palsu terhadap si tukang pos itu dapat dipatahkan dan dia bebas dari
hukuman mati. Demikian halnya dengan Tuhan Yesus. rasul-rasul diberi hak
istimewa untuk menjadi saksi bagi Yesus. Itu berarti mereka dituntut untuk
mengatakan apa yang mereka dengar, lihat dan alami tentang Yesus. Kesaksian
itu sangat penting karena Yesus telah mengetahui sebelumnya akan adanya
orang-orang yang menyalahmengerti diriNya dan mengajarkannya secara salah.
Tugas menjadi saksi tersebut sangat berat, penuh resiko dan menuntut harga,
termasuk ancaman nyawa! Karena itu, kehadiran Roh Kudus dalam diri setiap
saksi sangat mutlak, bukan saja untuk meneguhkan dan memberi keberanian
kepada saksi, tapi juga supaya orang yang mendengar kesaksian tersebut dapat
diyakinkan (Yoh.16:8). Dan benar, dengan kuasa dari Roh Kudus tersebut,
ketaatan dan kesetiaan para rasul menghasilkan buah, di mana jumlah murid
yang percaya kepada Yesus berkembang dengan sangat cepat. Dokter Lukas
mencoba memberikan data statistik di mana dimulai dengan 120 orang
(Kis.1:15), lalu setelah khotbah pada hari Pentakosta menjadi 3000 org
(2:41), meningkat 5000 orang (4:4). Itu berarti peningkatan hampir 4200
persen! Angka di atas merupakan angka terakhir yang diberikan oleh dokter
Lukas, karena selanjutnya, kita hanya menemukan istilah "jumlah murid makin
bertambah..." (6:1). Kiranya, tanda-tanda di atas juga menjadi tanda yang
kita temukan di Gereja-gereja kita sebagai manifestasi dari hadirnya Roh
Kudus dalam diri kita masing-masing. Kiranya, seiring dengan berubahnya
hidup kita oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh tersebut, kita juga
melihat perubahan di dalam Gereja kita, semakin bertambah banyak dan
bertumbuh makin dewasa (Efesus 4:13).

Akhirnya, menarik sekali jika kita mengamati peristiwa pada hari Pentakosta
tersebut. Dalam kenyataannya, ketika itu, rasul-rasul BELUM pergi ke seluruh
dunia. Namun mari kita lihat pernyataan Alkitab berikut, bahwa di hari
Pentakosta, "Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh daro
SEGALA BANGSA DI BAWAH KOLONG LANGIT (Kis.1:5). Jadi, sebelum rasul-rasul
pergi ke seluruh dunia, Allah telah membawa seluruh dunia DATANG kepada
rasul-rasul. Pada saat itu, dengan cara yang ajaib, Allah mengaruniakan
kepada mereka kemampuan untuk mendengar rasul-rasul berkata-kata dalam
bahasa mereka sendiri "tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan
Allah" (Kis.1:11). Kenyataan tersebut penting untuk kita renungkan, agar
kita tidak menganggap bahwa missi untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia
seolah-olah sesuatu mimpi, yang tidak akan mungkin terjadi. Missi itu adalah
missi Allah sendiri. Karena itu, Dia mampu melakukan apa yang
diperintahkanNya melalui hamba-hambaNya yang taat dan berserah penuh
kepadaNya. Masalahnya, apakah ketaatan dan penyerahan kita kepadaNya sudah
mencerminkan hidup seseorang yang dipimpin dan dipenuhi oleh Roh Kudus?

No comments: