Thursday, September 25, 2014

LIHAT HIDUPNYA BUKAN CARA MATINYA


LIHAT HIDUPNYA BUKAN CARA MATINYA.
(Masih merenungi yang tertulis I Samuel 31:1-13)

Sebagian orang menilai bahwa seseorang di sananya akan menderita atau akan bahagia bisa dilihat dari cara mati orang tersebut.  Jika orang itu matinya tersia-sia, bahkan dengan wajah yang mengerikan atau ia mati ditabrak mobil sampai tidak bisa dikenali lagi, dll kebanyakan orang menyimpulkan bahwa di alam sana tidak bahagia. Namun, sebenarnya apakah demikian? Bagaimana dengan kematian Tuhan Yesus yang begitu mengerikan. Justru yang terjadi pada Tuhan Yesus dan seharusnya memang harus terjadi demikian, menjadi peluang banyak orang menerima kehidupan yang kekal. Sebuah ilustrasi dari seorang penyiar di Radio:

Seorang pelayan dimintai tolong majikannya untuk belanja ke pasar. Tidak menyangka  ketika dia sedang asyik berbelanja, bahunya di sentuh oleh seseorang. Ia kaget, dan ketika mencari siapa yang menyentuh bahunya, darahnya tersirat, ia berdiri terjajar, ketakutan meliputi hatinya,  karena yang menyentuh adalah wanita cantik yang namanya kematian. Wanita itu tersenyum, walaupun senyum itu menawan, namun menyiratkan sebuah kematian. Dengan gemetar, pelayan itu mencoba  menjauh dari wanita tersebut dan segera menyelinap diantara orang banyak langsung pulang. Setelah di rumah ia menjumpai majikannya.

“Tuan, saya pinjam kudanya, saya akan pergi ke Samarra, supaya saya tidak berjumpa dengan wanita ayu di pasar tadi”.

Majikannya memberikan pinjaman  kuda, dan pelayan itu segera pergi ke kota Samarra. Majikannya itu segera pergi ke pasar untuk menjumpai wanita yang disebut kematian itu, dan ternyata wanita itu masih ada di sana. Majikan itu langsung bertanya:
“He kenapa kamu tadi pagi memberikan isyarat yang menakuti pelayanan saya”

“Itu bukan isyarat yang menakutkan”, demikian jawabnya. “Itu hanya permulaan dia kaget. Saya kaget ketika bertemu di Bagdad, pada hal janjian bertemunya di kota Samarra. Tetapi sebenarnya di kota Samarra itu di sana akan berbahagia, dan penuh sukacita bukan ketakutan, asal dia tetap di dalam hidupnya bersandar kepada Yang memegang kunci kematian dan Kehidupan.”

Dari ilustrasi tersebut kita bisa memetik pelajaran, bahwa kematian itu kemanapun kita pergi, kematian juga ada di sana. Artinya kematian itu tidak bisa kita hindari, siapapun, kedudukan apapun di dunia ini akan mengalami apa yang disebut kematian. Orang tidak bisa lari dari hal ini. Namun, suatu berita yang sangat baik adalah bahwa orang yang percaya pada Tuhan Yesus, maka  orang itu diberi hidup baru, dan kematian adalah merupakan gerbang untuk memasuki kebahagiaan dan kesukacitaan sejati. Dia dan orang yang percaya kepadaNya akan di berada di sana. Itulah sebabnya Paulus menulis:

“Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal” (II Korintus4:16-18).

JANGAN TAKUT TERHADAP KEMATIAN, NAMUN JIKA KITA MASIH DIBERI HIDUP ADALAH KESEMPATAN UNTUK MEMBANGUN MONUMEN ROHANI, YANG TIDAK LAYU KETIKA TERTIMPA PANAS DAN TIDAK LENYAP KETIKA TERTIMPA PRAHARA. KEMATIAN BAGI ORANG PERCAYA BAGAIMANAPUN CARANYA ADALAH BERHARGA DI MATA ALLAH.

Monday, September 22, 2014

Belajar dari Daud: bertindak tanpa tuntunan Tuhan berisiko berat - Pudjianto P.



BERTINDAK TANPA TUNTUNAN TUHAN BERISIKO BERAT.
(Masih belajar dari kehidupan Daud).

Mencermati apa yang ditulis Alkitab dalam I Samuel 27-30, ada hal yang menarik untuk menjadi pelajaran hidup orang beriman pada zaman sekarang. Sudah diketahui bahwa Daud sampai di Gat  kota musuh bukan karena tuntunan Tuhan. Namun karena buah pikirannya sendiri, karena hidup di negeri sendiri dikejar-kejar oleh rajanya. Hidup di negeri orang tanpa pimpinan Tuhan, memang sementara nyaman, karena tidak lagi dikejar raja Saul. Namun, di negeri yang ditempati sampai 16 tahun ini, semakin lama ada akibat yang harus dirasakan oleh Daud. Di negeri orang terlebih musuh bangsanya ia harus bisa menempatkan diri. Arti sederhananya ia harus berpura-pura. Sebagai akibatnya

1.      Daud kehilangan jati dirinya. Akibat dari berpura-pura selama 16 tahun, maka ia kehilangan jati diri  yang sebenarnya. Walaupun seolah-olah bertindak setia kepada Raja Akhis, namun para pimpinan prajurit Filistin tidak bisa menerima kehadiran Daud. Sehingga ia harus terusir dari mana ia ditempatkan raja Akhis. (pasal 29). Ia tidak punya Negara. Hidup susah, di bangsanya tidak dianggap  di orang Filistin juga di buang. PENERAPAN: Betapa sulitnya menjalani kehidupan dikatakan Kristen hidupnya persis seperti orang dunia. Jika dikatakan tidak kristen, KTPnya kristen dan sering ke gereja.
2.      Rasa damai di hati Daud hilang sama sekali. Ketika Daud diusir berkata: “"Apa yang telah kuperbuat? Dan kesalahan apa yang kaudapati pada hambamu ini, sejak saat aku menjadi hamba kepadamu, sampai hari ini, sehingga aku tidak boleh ikut pergi berperang melawan musuh tuanku raja?"(I Samuel 29:8). Di sini Daud merasa menyesal sekali. Keuntungan secara dunia sangat sedikit di terima, namun kerugiannya sangat banyak. PENERAPAN: Meninggalkan Tuhan itu memang untuk sementara enak dan senang. Namun setelah itu, bisa dilihat akibatnya. Yang ada Cuma duka nestapa. (Baca pasal 30:1-5 Daud kehilangan segala-galanya).
3.      Daud kehilangan kepercayaan dari para pengikutnya. Hampir saja dibenturi batu. “Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan. Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya”(I Semual 30:6). Dalam kesulitan dan kesendirian, di situlah Daud baru teringat akan Tuhan. PENERAPAN: Meninggalkan Tuhan karena sebuah pergumulan bukanlah jalan keluar. Jika dilakukan akibat buruk akan menimpanya.

Belajar dari apa yang dialami Daud, sudah seharusnya kita sebagai orang beriman harus berhati-hati. Di dalam derita jangan sampai meninggalkan Tuhan. Jangan sampai kita tergoda untuk hidup secara dunia, atau  mencoba untuk hidup dalam dosa. Jika itu kita lakukan, maka akibat yang kita sandang akan sangat berat.

PENDERITAAN HIDUP DI DALAM MENGIRING TUHAN, JANGAN MENJADI ALASAN KITA MELEPASKANNYA.  KARENA SEKALI KITA MELEPASKANNYA KITA AKAN MEMASUKI LORONG YANG TANPA UJUNG DI SANA YANG TERSEDIA HANYA KEGELAPAN DAN DUKA NESTAPA

Wednesday, September 17, 2014

HIKMAT YANG MENYELAMATKAN - Pudjianto P.



HIKMAT YANG MENYELAMATKAN
(Belajar kehidupan seorang wanita yang bernama Abigail 01)

Menyimak apa yang tertulis di dalam I Samuel 25, memang sungguh sangat membuat dada berdebar-debar. Membayangkan Daud yang tingkat emosinya sudah begitu tinggi, dan di dalam pikirannya hanya satu Nabal harus dilenyapkan dari muka bumi. Dalam kemarahan yang demikian tidak ada satu orangpun diantara orang-orang Daud yang mengingatkan bahwa kemarahan itu tidak ada gunanya. Mereka justru mendukungnya, dan mereka mempersiapkan secara seksama mendukung kemarahan Daud, untuk melenyapkan Nabal.  600 orang yang terlatih dalam perang, siap untuk melenyapkan nabal dan orang-orangnya. Para orang-orang Nabal segera melaporkan kepada majikannya, namun bukan majikan laki-laki, tetapi majikan perempuan yang bernama Abigail.  Mendapat laporan demikian,  “Lalu segeralah Abigail mengambil dua ratus roti, dua buyung anggur, lima domba yang telah diolah, lima sukat bertih gandum, seratus buah kue kismis dan dua ratus kue ara, dimuatnyalah semuanya ke atas keledai, lalu berkata kepada bujang-bujangnya: "Berjalanlah mendahului aku; aku segera menyusul kamu." Tetapi Nabal, suaminya, tidaklah diberitahunya.(I Samuel 25:18-19).

Dari sini kita belajar karakter seorang wanita yang bernama Abigail.  Harus diakui Abigail adalah wanita yang memiliki hikmat. Ia seorang wanita yang menerima suaminya apa adanya. Dia tahu kelemahan-kelemahan suaminya. Ketika dalam kondisi terdesak, dan nyawa suaminya dalam keadaan yang berbahaya, ia mencari cara bagaimana bisa menyelamatkan nyawa suaminya. Benar-benar seorang wanita yang memiliki hati yang berbudi luhur. Abigail menyiapkan makanan yang cukup banyak, dan apa yang dilakukan tidak bilang sama suaminya. Ia kenal suaminya, dan kalau sudah punya mau sulit diajak berbincang. Yang seharusnya sebagai seorang suami harus banyak mendengar orang yang dekat dengannya. Karena bagaimanapun susah/senang pendamping hidup akan ikut merasakan. Itulah pentingnya dalam rumah tangga saling mendengar, dan memperhatikan isi hati masing-masing baik sang suami maupun istri. Jangan ada dominasi dalam rumah tangga. Abigail kenal suaminya dan menerima suaminya apa adanya. Mungkin banyak hal ia tersakiti atas tingkah suaminya yang kurang pada tempatnya. Namun, walaupun demikian ia bertindak untuk menyelamatkan suaminya. Ia tidak perlu bilang, bukan berarti ia melawan suaminya. Ia tidak berniat melawan suaminya. Ia membuat roti sebanyak itu tidak bilang. Semua dilakukan  sekali lagi untuk menyelamatkan nyawa suaminya.

Apa yang dilakukan Abigail sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Bahwa jikalau sudah menjadi suami istri artinya menjadi satu, bagaimanapun kekuarangan pasangannya tidak mungkin dalam kondisi yang membahayakan membiarkan. Komitmen hidup bersama, memang tidak perlu memperhitungkan seberapa banyak di sakiti. Ketika pasangan yang banyak mengecewakan ini dalam kondisi yang perlu mendapat pertolongan, maka ia segera bertindak untuk menolong.  Rumah tangga harus mengingat tulisan Petrus ini khususnya sebagai seorang suami: “Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang” (I petrus 3:7).

YANG NAMANYA KEBIJAKSANAAN ADALAH KALAU BUAHNYA MENDATANGKAN SEJAHTERA BAGI SESAMANYA.