Sunday, March 22, 2015

7 HAL YANG TIAP ANAK INGIN DENGAR


Memukul atau Tidak Memukul

Mendidik Anak

Efesus 6:1–4. Memukul atau Tidak Memukul

 
 
 
 
 
 
Rate This

Efesus 6:1–4. Memukul atau Tidak Memukul
Oleh: Ev. Evelyn Soedibyo, B.Sc.
Ev.Evelyn mengkotbahkan tema “Memukul atau Tidak Memukul”. Beliau membahas Efesus 6:1–4. Dari ayat ini Bu Evelyn mengajukan pertanyaan retoris, “Bagaimana kita bisa memukul anak kita, tanpa harus membangkitkan amarah di dalam hatinya?
Ada pepatah mengatakan bahwa “di ujung rotan ada emas,” artinya, It’s ok untuk memukul anak. Namun sejauh mana? Bu Evelyn memberikan pedoman dalam memukul anak, yaitu harus dengan kasih dan tepat. Orangtua yang punya kecenderungan abusive, tidak boleh memukul, karena bila ia memukul, akan cenderung bersikap abusive dan bukannya mendisiplin.
Bu Evelyn juga mengatakan bahwa berdasarkan buku-buku yang ia baca, usia yang baik bagi anak untuk menerima pukulan adalah antara 18 hari hingga Sembilan tahun. Di bawah 18 hari, memukul anak bisa mengakibatkan akibat fisik yang berbahaya. Sedangkan anak di atas Sembilan tahun, sudah tidak tepat lagi menerima disiplin dengan cara dipukul. Bentuk hukuman yang lebih tepat untuk anak dengan usia di atas Sembilan tahun, misalnya: Duduk satu jam untuk merenungkan kesalahannya, atau jam bermain dipotong untuk kerja.
Bu Evelyn kemudian memberikan tips bagaimana supaya anak tahu bahwa sesuatu itu berbahaya:
1. Langkah pertama: Katakan “Jangan!
2. Langkah kedua: Katakan “Jangan!” dengan lebih tegas lagi!
3. Langkah ketiga: Katakan “Jangan!” dengan cubitan!
Dan kalau harus sampai menerapkan hukuman fisik, harus diingat bahwa daerah tubuh yang masih aman untuk menerima hukuman adalah pantat dan jari.
Lalu bagaimana jika sesudah menerima hukuman, anak merajuk minta dipeluk? Haruskah kita memeluknya? Bu Evelyn mengingatkan satu prinsip, “Hate the sins, but love the sinners”. Praktisnya, orangtua jangan gengsi untuk kembali memeluk anak jika anak merajuk minta dipeluk setelah anak menerima hukuman. Sesungguhnya anak merajuk karena mencoba mencari tahu apakah orangtuanya masih mengasihi dia atau tidak! Justru ketika kita memeluk anak kita itulah, kita dapat mendidik dia. Kita dapat menjelaskan kepada dia tentang apa kesalahannya dan apa konsekuensi yang harus dia terima.
Namun Bu Evelyn kemudian memberikan empat alasan mengapa setelah kita menghukum anak dengan keras, masih ada kemungkinan ketidakberhasilan:
1. Bila hukum yang kita terapkan tidak tegas/tidak konsisten. Misalnya: Orangtua meminta anak untuk tidak merokok, namun orangtua sendiri merokok; atau jika orangtua memberi aturan berubah-ubah.
2. Kemauan anak lebih keras dari orangtua.
3. Pukulan terlalu lembut.
4. Anak hyper-active.
Dari semua pembahasan di atas, aku menangkap beberapa poin penting, yaitu:
1. Kalau mau memukul anak, perhatikan usia anak.
2. Dalam memberi hukuman, penting diingat adalah bahwa yang penting message sampai.
3. Orangtua jangan gengsi untuk menyatakan kasih kembali.
Sungguh, pelajaran-pelajaran yang sangat bermanfaat sekali bagiku.
(Disampaikan pada Persekutuan Gabungan Komisi Wanita dan Komisi Kaum Pria GK Kalam Kudus Jayapura, Jumat/2 Mei 2008)
sumber: https://ntprasetyo.wordpress.com/tag/mendidik-anak/

Monday, December 01, 2014

TIDAK MUNGKIN MENINGGALKAN TUHAN 03 - Pudjianto P

TIDAK MUNGKIN MENINGGALKAN TUHAN 03

Suara hati kecil untuk mengakhiri hidup itu terngiang-ngiang di telinganya. Di dalam hatinya berkembang bahwa ia tidak punya siapa-siapa, tidak punya saudara, tidak punya  orang tua, untuk apa hidup di dunia ini. Lebih baik memang harus mengakhiri kehidupan, di alam sana tidak ada permasalahan yang membuat hati tergores. Suara hati kecil sepertinya ada kuasa untuk menggerakkan tubuhnya. Ibu Rukmini bangkit dan berjalan mengambil kain panjang dan tanpa sadar  kain itu mulai dipilinnya.  Dan seperti bukan maksudnya sendiri matanya melihat  di tulang rumah mana kain itu akan diikat. Rasanya hati ibu Rukmini ketika itu sudah bulat untuk mengakhiri hidup.

“Tindakanmu sudah benar, untuk apa hidup kalau masalah banyak demikian. Suami yang menjadi tempat bersandar malah mengkhianati, benar…. akhiri hidupmu”, demikian kata hati kecil. “Dan kamu tahu mati itu enak”.

Tangan tanpa henti memilin kain pajang, dan Ibu Rukmini seperti robot mencari tulang rumah yang bisa dipakai untuk mengakhiri hidupnya. Namun, tiba-tiba tubuhnya terjajar, ketika pintu rumah terbuka, anak laki-lakinya datang dengan membawa rangsel.

“Bu kata teman-teman Bapak pulang?”, demikian tanya anaknya, yang baru pulang dari kegiatan sejak 2 hari yang lalu, ikut retreat anak-anak Sekolah Minggu.  Mendengar suara anaknya  semua suara pergolakan batin untuk menuntun supaya mengakhiri hidup ini hilang lenyap tanpa bekas. Ibu Rukmini disadarkan bahwa ia memiliki satu-satunya yang menjadi harapan kehidupannya yaitu anak laki-lakinya. Ibu Rukimini langsung membuang kain panjang yang sudah dipilin itu dan memeluk anaknya dengan tangisan yang tersedu-sedu.

Anak laki-lakinya itu nampak bingung. “Bu ada apa?”, demikian tanya anaknya.  Ibu Rukmini menggelengkan kepala. Dalam hati anaknya tidak akan diberitahu persoalan dengan bapaknya. Mungkin saat ini tidak tepat karena anaknya baru saja pulang dari kegiatan Gereja.

“Kok sampai malam to Nak pulangnya?”, demikian yang terlontar dari mulut ibu Rukmini di sela-sela sedu sedannya.

“Kan mobilnya muter-muter dulu ngantar teman-teman yang jauh, baru yang terakhir  anak-anak yang tinggal di sini bu?”, demikian jawaban anaknya, sambil meletakkan rangselnya.

“Sudah mandi dulu sana ya?”, demikian ibu Rukmini menyarankan anaknya. Dan ibu Rukmini mengambil tas anaknya, membongkar untuk pakaian-pakaian yang kotor di bawa ke tempat cucian. Nampak anaknya mau bertanya,  namun ibu Rukimin sudah membawa pakaian anaknya laki-laki itu ke tempat cucian.

Seiring kehadiran anak laki-lakinya, pikiran ibu Rukmini kembali normal, ia melihat kenyataan bahwa dirinya masih ada gunanya untuk masa depan anak laki-lakinya. Ia masih memiliki tanggung jawab yang besar. Seiring dengan  tersingkirnya kekalutan di dalam pikirannya, ia teringat yang selama ini menjadi bagian hidupnya Tuhan Yesus. Dia sudah banyak menolong di dalam kehidupannya, dan ia rasakan bahwa itu tuntunanNya untuk supaya ibu Rukmini lebih percaya kepada Dia. Dan memang seiring dengan rajinnya beribadah, imannya semakin bertumbuh, dan semakin berakar.

Ketika anaknya di kamar mandi itulah, ibu Rukmini berlutut di kamar, ia mohon ampun atas tindakan yang akan dilakukan. Ia lebih focus kepada kekalutan hatinya dari pada minta penerangan kepada Tuhan. Ibu Rukmini berterima kasih bahwa anaknya tiba tepat pada waktunya. Jika tidak maka malam ini ia sudah almarhum. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati anak laki-lakinya tersebut, ketika pulang dari kegiatan gereja mendapatkan ibunya bergantung di tulang rumah sudah menjadi mayat. Ibu Rukmini menarik nafas dalam-dalam, ada sembilu mengiris hatinya.

Tanpa bisa di kendalikan pikirannya menerawang jauh, bilamana anaknya menjadi dewasa nanti, ia akan dicap oleh lingkungan dan teman-temannya kalau keturunan seorang ibu yang matinya, menggantung diri. Sudah tentu akan merendahkan anaknya. Ternyata  anaknya memiliki ibu yang tidak tegar dalam menghadapi sulitnya kehidupan. Sampai di sini ibu Rukmini menarik nafas dalam-dalam, menenggelamkan kepedihan hatinya yang tiba-tiba terungkat. Kembali rasa syukur  dipanjatkan kepada Tuhan, ia tidak menuruti kekalutan hatinya.

“Bu, Bapak katanya pulang”, demikian anaknya setelah selesai mandi, masih menanyakan bapaknya (Bersambung)

SEKALUT-KALUTNYA HATI JANGAN SAMPAI PUNYA PIKIRAN UNTUK MENGAKHIRI HIDUP, KARENA DENGAN MENGAKHIRI HIDUP ITU MERAMPAS KEWENANGAN TUHAN DI DALAM MENGATUR KEHIDUPAN