Sunday, August 17, 2014

MERDEKA ATAU MATI

MERDEKA  ATAU MATI

Kata yang menggetarkan dada ketika terjadi perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia  oleh para pejuang  adalah kata “ Merdeka atau mati”. Hanya ada satu pilihan pada waktu itu “merdeka atau mati”.  Dan kata itu sungguh menjadikan sarana membakar semangat juang yang tidak habis-habisnya. Mereka dengan senjata seadanya  berani terjun ke kancang peperangan dengan persenjataan  penjajah yang super canggih pada jamannya. Dan ternyata perjuangan yang membara itu tidak sia-sia. Kemerdekaan itu bisa diperoleh oleh bangsa Indonesia. Dan pernyatakan proklamasi adalah sebuah pernyataan yang  bergema di setiap dada bangsa Indonesia, apapun sukunya, apapun agamanya bahwa Indonesia sudah merdeka.

Seorang veteran yang sudah tua bercerita dengan tersenyum sebuah kelucuan, ketika mendengar  bahwa Indonesia sudah merdeka dari penjajahan. Ada sebagian yang mengartikan merdeka itu dengan arti yang sangat sempit. Mereka mengartikan kalau naik kereta api , naik bus umum, tidak membayar.  Kalau ditanya kondektur kenapa tidak mau bayar? Jawabnya orang sudah merdeka kok masih membayar. Dan masih banyak cerita lucu lainnya, dan itu menandakan belum mengerti arti merdeka. Kemerdekaan perlu diisi untuk meratakan keadilan  dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia. Kewajiban masih banyak, dan perlu kesungguhan dan kejujuran dalam menanganinya.

Dalam dunia rohanipun terjadi hal yang sama. Ketika itu Paulus menghadapi orang-orang Kristen baru yang telah dimerdekakan dari dosa oleh karena kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus. Dan itu karena kasih karunia. Mereka merasa bahwa dengan dimerdekakan dari hukuman dosa, berarti memiliki kebebasan untuk melakukan-melakukan dosa itu tanpa hukuman lagi.  Paulus menasihati orang-orang yang memiliki pemahanan ini demikian: “ Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?”(Roma 6:1-2). Justru sebagai orang yang sudah merdeka mengisi kehidupan dengan melakukan hal-hal yang benar, dan memuliakan nama Tuhan. Paulus melanjutkan nasihatnya: “…tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran” (Roma 6:13).

Tidak bisa dipungkiri bahwa orang yang sudah dimerdekaan hidupnya dari dosa, dan hidup baru di dalam nama Tuhan Yesus haruslah kelihatan buah-buah kehidupannya yang memulikan Tuhan. Banyak orang yang sudah menerima hidup baru di dalam Yesus  semboyan merdeka atau mati bisa ditrapkan di dalam hidup ini. Mudah sekali orang untuk mati demi Tuhan, namun yang paling berat adalah hidup untuk Tuhan. Karena jika hidup untuk Tuhan, ia harus hidup selaras dengan kehendak Tuhan,  dan mengisi hidupnya dengan hal-hal yang menjadi perkenan Tuhan.  Hanya memang  Tuhan tidak pernah memerintahkan umatNya, supaya umatNya mati untuk Dia.

JIKA KITA MEMANG SUDAH DIANUGERAHI KEMERDEKAAN DARI HUKUMAN DOSA  DI DALAM NAMA TUHAN YESUS, SUDAH SEPANTASNYA HIDUP KITA DIISI DENGAN HAL-HAL YANG MEMULIAKAN NAMANYA SEBAGAI RASA SYUKUR KITA KEMERDEKAAN  TERSEBUT.

Pudjianto P.

Thursday, August 14, 2014

TERPILIH MENJADI PELAYAN TUHAN

TERPILIH MENJADI PELAYAN TUHAN

Di sebuah Sekolah Theologia bukaan semester baru yang mendaftar masuk ada 75 orang. Cukup banyak bagi sebuah sekolah Theologia. Dan setiap Mahasiswa sebelum memasuki pelajaran diminta untuk memberikan kesaksian. Dari kesaksian setiap pribadi, memang luar biasa cara Tuhan memanggilNya. Mereka semua pada intinya berkomitmen untuk dibentuk di Sekolah tersebut, untuk menjadi pelayan Tuhan yang sungguh, dan berdedikasi. Tahun berikutnya, sudah tidak utuh 75, sampai semester terakhir yang jangkanya 5 tahun, ternyata yang sampai di utus menjadi pelayan hanya 25 orang saja. Rata-rata mereka yang keluar adalah tidak tahan aturan sekolah yang luar biasa ketatnya. “Tidak ada kebebasan”, demikian kata seseorang.

Menyimak apa yang tertulis di dalam Alkitab memang berkaitan dengan keselamatan, semua orang mendapat anugerah yang sama. Percaya Tuhan Yesus maka ia akan diselamatkan. Namun kalau sudah bersangkut paut dengan menjadi pelayan Tuhan, rupanya juga ada syarat-syarat tertentu. Seorang hamba Tuhan yang dipercaya berkotbah diantara para mahasiswa Teologia menandaskan beberapa hal penting untuk menjadi pelayan Tuhan.
1.       Memiliki standart kerohanian yang bagus. Artinya memiliki stantart kerohanian yang bagus adalah  bahwa orang itu memiliki hubungan  baik dengan Tuhan. Orang itu sungguh memahami apa yang menjadi pikiran Allah. Apa yang utama bagi Allah, itulah yang menjadi utama di dalam hidupnya. Yang menjadi pekerjaan Allah, itulah juga yang menjadi pekerjaannya. Yang ada di dalam hidupnya adalah hanya ketaatan kepada apa yang dikehendaki Allah. Seorang pelayanan itu memiliki kepekaan  terhadap apa yang dikehendaki Allah. Sikap itulah yang menjadi perkenan Allah. Kitab suci tertulis: “Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia” (II Tawarikh 16:9). Orang yang bersungguh hati terhadap Allah ini akan mampu menghadapi terpaan hidup dan orang itu diteguhkan untuk menjadi berkat bagi sesamanya.
2.       Seorang pelayan adalah orang yang memiliki sifat rendah hati.  Tidak menyembunyikan sesuatu yang menjadikan batu sandungan. Terbuka, dan apa adanya. Ketika Nabi Samuel diutus Tuhan untuk mencari pengganti raja Saul, ia memandang secara manusia keberadaan anak-anak Samuel  yang besar-besar secara lahiriyah. Ternyata Tuhan tidak melihat yang lahiriah, namun justru apa yang tidak diperhitungkan oleh manusia itulah yang dipilih. Itulah Daud. Karena dia memiliki kerendahan hati  dari dasar hatinya yang paling dalam. Tertulis dalam kitab suci: “"Telah Kutaruh mahkota di atas kepala seorang pahlawan, telah Kutinggikan seorang pilihan dari antara bangsa itu. Aku telah mendapat Daud, hamba-Ku; Aku telah mengurapinya dengan minyak-Ku yang kudus, maka tangan-Ku tetap dengan dia, bahkan lengan-Ku meneguhkan dia.(Mazmur 89:20-22). Siapa yang merendahkan diri akan ditinggikan.

Apa yang menjadi renungan hamba Tuhan tersebut menjadi pelajaran bagi kita. Apakah benar kita ingin melayani Tuhan? Apakah benar kita ingin menjadi pelayanNya. Jika kita masih senang pamer kerohanian kita, dengan tujuan mendapat pujian dari sesama, sebenarnya kita belum layak untuk menjadi pelayanNya. Kita hanya pantas menjadi pemain drama kerohanian yang bagus.

MENJADI PELAYAN TUHAN BUKANLAH SEPERTI PEMAIN DRAMA. PEMAIN DRAMA HARUS BISA BERPERAN SEDEMIKIAN RUPA SEHINGGA BISA MENAMPILKAN WATAK SIAPA DIA BERPERAN. PELAYAN TUHAN TAMPIL APA ADANYA, APA YANG DILUAR ITULAH YANG ADA DI DALAM HATINYA.

Pudjianto P.

JIKA BELUM SAATNYA TIDAK PERLU KEBURU

JIKA BELUM SAATNYA TIDAK PERLU KEBURU

Jikalau kita membaca dalam I Samuel 16, suatu peristiwa besar terjadi. Daud seorang yang tidak diperhitungkan keluarga itu diurapi menjadi raja. Artinya pilihan Allah jatuh kepada dia seorang gembala di padang, diangkat oleh Tuhan melalui nabi Allah yaitu nabi Samuel untuk menjadi raja bagi bangsanya. Namun, ternyata setelah dia diurapi menjadi raja, tidak sekaligus langsung menduduki kursi raja dan  memerintah. Upacara pengurapan selesai, namun Daud kembali ke padang untuk menggembalakan domba ayahnya yang hanya beberapa ekor itu. Demikian Juga keluarganya dan orang-orang yang diundang menyaksikan juga kembali ke tempat masing-masing. Mungkin Daud juga tidak merasa apa-apa. Waktu itu ia disusul supaya pulang dari menggembalakan domba, dan setelah itu diajak mengikuti upacara, dan dialah orang yang diurapi menjadi raja. Daud bukanlah orang yang bertipe ambisius, setelah mendapat pengesahan raja langsung datang ke Istana Saul mengatakan apa yang terjadi. Ia tidak berbuat demikian, namun ia kembali ke pekerjaannya semua, menanti apa yang akan terjadi. Karena persoalan Negara ada kaitanya dengan Tuhan. Nabi Samuel ketika itu juga tidak melarang Daud kembali ke padang menggembalakan dombanya. Nabi Samuel sudah mentaati apa yang menjadi kehendak Tuhan, yaitu mengurapi orang yang dipilihNya  menggantikan Saul menjadi raja. Dan setelah itu bukan urusannya lagi. Daud akhirnya menjadi apa dan bagaimana caranya dia menjadi raja adalah urusan Tuhan bukan urusannya.

Demikian juga Daud ketika kembali ke ladang, ia dengan menjaga dombanya membunyikan kecapinya untuk memuliakan Allah, dan mengarang Mazmur-Mazmur indah untuk mendekatkan hati kepada Tuhan. Dan memang Mazmur-Mazmur itu sangat berguna bagi orang yang membacanya khususnya orang-orang yang sudah hidup di dalam Tuhan. Daud bukanlah orang yang ambisius, yang setelah tahu dia memang yang harus menjadi raja terus mencari pendukung untuk segera menggantikan kedudukan Saul. Daud tidak melakukan yang demikian. Itu semua adalah hak Tuhan, Dialah yang akan mengaturnya dengan caraNya.

Di dalam Kitab suci tertulis: “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya”(Pengkotbah 3:1).
Jikalau sudah tiba masanya Tuhan kehendaki, maka ada saja cara bagaimana sampai kepada yang dimaksudkan. Dan untuk sampai ke sana memang dibutuhkan kesabaran, kemantaban, dan kepekaan terhadap apa yang dikehendak Tuhan. Keyakinannya adalah  Tuhan tidak pernah kehabisan cara untuk bisa kehendakNya jadi di atas bumi ini.

SIKAP TERBURU NAFSU ADALAH SUATU TANDA BAHWA ORANG ITU TIDAK DEWASA. BIASANYA ORANG YANG TIDAK DEWASA CEPAT PANIK, TIDAK TENANG HATI, MENYALAHKAN ORANG LAIN. TERBALIK DENGAN ORANG YANG DEWASA, IA TETAP TENANG, PERCAYA, DAN YAKIN BAHWA TUHAN PUNYA WAKTU, SEHINGGA TIDAK PERNAH KEHILANGAN PENGHARAPAN.

Pudjianto P.