Thursday, October 23, 2014

MENELAN BUAH PAIT DI MASA TUA - Pudjianto P.



MENELAN BUAH PAIT DI MASA TUA
(Belajar dari kehidupan Daud)

Satu hal yang tertulis II Samuel 16, adalah suatu perilaku menyimpang dan bisa dikatakan bejat. Bagaimana seorang anak mendengar nasihat orang yang tidak bertanggung jawab hanya dengan alasan untuk mendapatkan simpati rakyat. Yang dilakukan adalah totonan kebejatan moral yang belum pernah terjadi di bumi ini. Seorang anak menghampiri gundik-gundik ayahnya yang berjumlah 10 orang wanita di atas sotoh rumah dan diperlihatkan di muka umum. Ini adalah sebuah tindakan yang dekadensi moral yang parah. Dan orang yang demikian  memimpin sebuah negeri yang besar, yang dikenal sebagai umat pilihan Allah. Itulah yang dilakukan Absalom atas nasihat Ahitofel.

Namun itu semua terjadi karena memang Absalom kurang mendapat perhatian dan didikan dari seorang ayah. Daud ketika Absalom masih harus mendapat perhatian ayahnya, sedang mencari perempuan-perempuan untuk dikumpulkan di istana menuruti hawa hafsunya. Betapa getirnya hati seorang ayah yang sudah tua, mendengar peristiwa yang demikian, bagaimanapun apa yang dilakukan Absalom sama dengan  mencelikkan mata Daud. “Itulah akibatnya jika kamu sebagai seorang ayah, tidak bertanggung jawab mendidik, ia menurut nasihat orang-orang jalanan yang tidak mengerti hukum Tuhan…..” tuduhan batinya.

Apa yang dialami Daud adalah menjadi peringatan bagi kita yang kebetulan saat ini sebagai seorang ayah. Betapa pentingnya memberikan waktu kepada anak-anaknya, memberikan suri teladan yang baik, hidup taat kepada Tuhan, dan memberikan perhatian bahkan mengajarkan kebenaran itu berulang-ulang. (Ulangan 6:6-7). Artinya kehadiran seorang ayah bagi anak-anak sangat dibutuhkan oleh anak-anaknya. Kitab suci menulis: “Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu.(Amsal 29:17).

JIKA KITA SEBAGAI ORANG TUA TIDAK INGIN MENELAN KEPAHITAN DI MASA TUA, MULAILAH HADIR DITENGAH-TENGAH KELUARGA SETIAP SAAT, DAN MENDIDIK ANAK SEJAK DINI BAGAIMANA HIDUP DI DALAM TUHAN.

Monday, October 20, 2014

7 Alasan mengapa orang meninggalkan gereja

One disappointment I have had in ministry is watching people come to church, get excited for a time, then disappear. You spend energy and heart on people, grow to love them and get excited about them, and suddenly they are nowhere to be found.
The biggest disappointment is not people who transfer to another church. I’m okay with that if it helps them better grow in their relationship with Christ. I’m talking about people who quit going to church altogether. They are in one day—out the next.
What happens to them? Why do they leave?
I’ve found there are often similar reasons that are repeated continuously. Perhaps you have seen this, too.
Here are 7 reasons people disappear from church:
Burn out - These people came out of the gate too strong in the church. They showed up, got excited, and signed up for everything. They got so busy doing church they failed to enjoy being the church.
Injury - People inside the church can be cruel. I hate when that happens, but it’s true. These people experienced some of those people, and they couldn’t move past it.
Distractions - These people got distracted by seemingly good things. They were playing travel ball, loving the fast life, traveling every weekend. Over time, their lifestyle of attending becomes the habit of not attending.
Life change – These people had a lifestyle change, such as divorce or re-marriage—or they move to a new community—and never re-connect with a church.
Mistakes - These people messed up! They made a mistake that may be public—or at least they feel that it will be known—and the place that should dispense grace appears either refuses it or they feel that it would. Many times when a person feels that way it is more perception than reality, but the way a person feels about themselves may determine whether they remain committed to church.
Power struggle – These people had an agenda. They were pursuing an issue—or a position—and when their demands weren’t met and they couldn’t overpower the system, they left.
Lack of connection – These people never connected with others on a deeper level. As a result, they never felt really a “part” of the church.
Pastors, have you experienced these walking with people in ministry? How do you address these issues?
Obviously, we need to do all we can to help people become disciples. Knowing why they leave may be helpful. We can’t address some of these issues—maybe most—much of this is out of our control. But the more we understand the more we can help people as they experience these.
I think there is also a word here to the one who has disappeared or is on the verge. Beware. If you feel the need for the church in your life—or if you understand the Biblical mandate to be a part of a Body of believers—then guard your heart for these. And help us know how to be a better church. In fact, come help us be a better church. Here’s one pastor (and I know so many others) who is listening.
What other reasons would you add to my list?

Sunday, October 19, 2014

Hindari menabur kedagingan - Pudjianto




TUAIAN  LEBIH DARI PADA YANG DITABUR
(Masih belajar dari kehidupan Daud)

Jikalau seorang petani mendapatkan tuaian hasil yang berlipat-lipat  dari apa yang ditanam maka hatinya akan gembira. Namun, kalau tuaian itu karena taburan  hawa nafsu di masa muda, maka membuat hati hancur berkeping-keping. Itulah yang terjadi pada Daud yang ditulis dalam II Samuel 15. Sudah tentu Daud tidak menyangka putranya sendiri akan  melakukan pemberontakan bahkan merebut tahta anugerah Tuhan itu. Tentu Daud heran,  bahwa Absalom yang dirindukan, dan kepadanya tidak dikenakan hukum  yang sebenarnya ketika melakukan kesalahan pembunuhan terhadap saudaranya, akan  memberontak dan  merebut tahtanya. Mestinya Absalom bersyukur, dan berterima kasih. Namun, yang terjadi malah sebaliknya, dan sudah tentu  tindakan Absalom menghancurkan hatinya, membuatnya hengkang dari istananya.

Sudah pasti Daud tidak menyangka bahwa akibat tidak bisa mengendalikan diri ketika muda, setelah tua harus menuai akibat yang demikian berat. Masa muda demikian sibuk dengan perempuan-perempuan, setelah mereka melahirkan anak-anak baginya, Daud tidak sempat memperhatikan dan mendidik anak-anaknya bagaimana takut akan Tuhan. Dan yang memprihatinkan adalah anak-anak yang tidak mendapat perhatian dari seorang ayah, hidup menurut kebenarannya sendiri. Jika sebagai seorang ayah berlaku demikian, maka anak jangan dituntut bisa menghormati  ayahnya.

Inilah pelajaran yang cukup berarti bagi kita yang saat ini menjadi seorang ayah bagi anak-anak. Anak-anak itu lahir bukan karena keinginannya, mereka merupakan anugerah Allah. Jangan sampai putus komunikasi dengan mereka,  dan sudah selayaknya menjadi figure seorang ayah yang bertanggung jawab, membuat damai keluarga,  penuh kasih, memberi teladan bagaimana takut akan Tuhan dan perhatian terhadap keluarga. Jangan heran jikalau seorang  ayah yang demikian anak akan “MIKUL DHUWUR MENDEM JERO” (peribahasa Jawa, artinya anak akan memuliakan orang tua). Paulus sendiri memberi nasihat kepada seorang ayah: “Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya” (Kolose 3:21).

SUDAH MERUPAKAN HUKUM TABUR TUAI, BAHWA HASIL TUAIAN AKAN LEBIH BANYAK  DARI APA YANG DITABUR. HINDARI MENABUR HAWA NAFSU KEDAGINGAN SUPAYA TIDAK MENUAI KESESAKAN DI MASA TUA.