Sunday, August 07, 2016

10 Tanda Gereja dalam Krisis


Church leaders should be concerned …
  1. If the pastor does not have adequate time to be in the Word or if he chooses not to do so.
  2. If the members are spending time arguing about how money should be spent.
  3. If none or only a few of the key leaders are actively sharing their faith.
  4. If there is no clear process of discipleship in place, just a plethora of programs and activities.
  5. If corporate prayer is not a major emphasis in the church.
  6. If church members are arguing about worship style or worship times.
  7. If church members expect the paid staff to do most of the ministry, instead of the staff equipping the members to do the work of ministry (“Why didn’t he visit me in the hospital?”)
  8. If there are ongoing disagreements about matters of the church facilities.
  9. If the church has more meetings than new disciples.
  10. If the leadership of the church does not have a coherent plan for what is taught in small groups or Sunday School classes.

Saturday, May 16, 2015

IRI HATI MEMBUAT TUMPUL PERASAAN - Pudjianto P


IRI HATI  MEMBUAT TUMPUL PERASAAN
(Belajar dari kehidupaan Yusuf)
Kejadian 37:1-24

Pengalaman di negeri orang, jika bertemu sesama dari negeri sendiri, rasanya seperti  bertemu dengan saudara, dan akhirnya berujung persaudaraan yang melebihi saudara kandung sendiri.  Namun apa yang diungkapkan dalam  firman Tuhan ini khususnya dari ayat 18,  adalah merupakan kenyataan pahit yang terjadi akibat dari perasaan iri hati yang tidak diredakan. Iri hati yang dipelihara dan dibesar-besarkan sehingga menumbuhkan kebencian, yang berujungkan nafsu untuk membunuh.“Dari jauh ia telah kelihatan kepada mereka. Tetapi sebelum ia dekat pada mereka, mereka telah bermufakat mencari daya upaya untuk membunuhnya”.(ayat 18). Nafsu untuk membunuh itu timbul ketika mereka dalam hal ini kakak-kakak Yusuf melihat Yusuf dari jauh. Mereka bermukat untuk menghilangkan Yusuf dari antara mereka dengan cara membunuh. Hanya Ruben karena sebagai anak sulung ingin menyelamatkan Yusuf. Mungkin Ruben di dera rasa tanggung jawab. Ruben berpikir dibuang ke Sumur, hanya sebagai pelajaran bagi Yusuf saja. Dan  memang ketika Yusuf sudah dekat, Yusuf di tangkap, dan jubah yang dipakainya itu dilepaskan. Karena dengan jubah itu sebenarnya, menurut pandangan kakak-kakaknya Yusuf menjadi  berbeda  dengan mereka. Maka mereka lepaskan jubah itu. Setelah itu mereka melemparkan Yusuf kepada sumur yang tidak ada airnya setelah selesai urusan dengan Yusuf kakak-kakak Yusuf makan bersama.

Betapa hati mereka sungguh-sungguh tumpul. Setelah melakukan kejahatan mereka masih memiliki selera untuk makan. Mereka sudah tidak merasa Yusuf itu menjadi bagian dari kulit dagingnya sendiri. Mereka merasa bahwa  semua yang ada kaitannya saudara harus sama dengan mereka, pekerjaan harus sama, pakaian harus sama, makanpun harus sama. Iri hati itu membuat pikiran mereka sempit, dan menumpulkan perasaan.

Dari ini kita belajar, jangan sampai sebagai orang percaya terjangkit  perusak hubungan dengan sesama ini, yaitu iri hati. Seorang karyawan sebagai orang percaya tahu bahwa iri hati memang berbuahkan merusak hubungan dengan sesama. Maka karyawan itu melawan mati-matian hatinya supaya tidak iri terhadap temannya yang masih baru namun kedudukannya melambung tinggi di perusahaan itu. Ia belajar berbahagia dengan temannya walaupun sebenarnya hati kecilnya menggoda untuk mengiri temannya itu.  Ia berhasil memang, yang dulunya memanggil teman itu hanya namanya, namun sejak teman barunya menduduki jabatan penting di perusaahan di mana karyawan itu bekerja, ia mulai memanggil bapak kepada temannya tersebut, demikian juga ia menghormati sebagai seorang pimpinan. Ia sopan dan bersikap sebagai bawahan. Walaupun sebenarnya  dirinya sebagai karyawan  itu senior. Dari perjuangan menyikapi kehidupan dengan bersyukur itu, ia merasakan di hatinya terpancar damai sejahtera yang luar biasa. Hatinya menjadi lapang tidak terbebani apa-apa. Ia nyaman bekerja, karena memang dari pekerjaannya itu merupakan sumber kehidupan bagi keluarganya. “Terima kasih Tuhan”, demikian ketika mendapat anugerah damai sejahtera di hati tersebut. Tuhan Yesus bersabda: “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. ..”(Yohanes 14:27).

SEBAGAI ORANG BERIMAN TAHU BAGIMANA MELAWAN RASA IRI YANG MENYELIP DI HATI YAITU DENGAN MENGUCAP SYUKUR DALAM SEGALA HAL.

Tuesday, May 12, 2015

LAHIR DARI IBU YANG HANYA BERPENGHARAPAN PADA TUHAN

LAHIR DARI IBU YANG HANYA BERPENGHARAPAN PADA TUHAN
oleh Pudjianto P.

(Belajar dari kehidupan Yusuf)
Kejadian 37:1-24

Untuk mengenal Kisah Yusuf yang akan menjadi tumpuan pelajaran bagi kehidupan kita sebagai orang percaya, memang mau atau tidak kita harus menelusuri latar belakang kehidupan orang tuanya dalam hal ini adalah Yakub. Dalam Kejadian 30:22-24 tertulis:”Lalu ingatlah Allah akan Rahel; Allah mendengarkan permohonannya serta membuka kandungannya. Maka mengandunglah Rahel dan melahirkan seorang anak laki-laki. Berkatalah ia: "Allah telah menghapuskan aibku." Maka ia menamai anak itu Yusuf, sambil berkata: "Mudah-mudahan TUHAN menambah seorang anak laki-laki lagi bagiku."

Hubungan percintaan ayah Yusuf dengan Rahel adalah sebuah percintaan yang murni. Namun Rahel lahir anak yang kedua dari Laban yang masih memiliki anak perempuan YAITU  kakaknya Rahel yang bernama Lea. 7 tahun bekerja bagi Laban calon mertuanya supaya mendapatkan Rahel ternyata di tipu oleh calon mertuanya yang diberikan bukan Rahel namun  Lea kakak RAhel. Namun Yakub masih ingin mendapatkan Rahel karena wanita ini yang dicintainya maka ia harus bekerja 7 tahun lagi untuk Laban. Dan memang akhirnya mendapatkan dua-duanya. Ternyata Rahel tidak segera mendapatkan anak, tidak seperti Lea yang melahirkan anak-anak bagi Yakub. Timbullah persaingan yang tidak sehat. Dunia Yahudi pada Zaman itu seorang wanita yang tidak memiliki anak adalah sebagai wanita yang hina. Dan memang tidak ada harganya di mata Masyarakat. Tidak ada yang dilakukan supaya aibnya diangkat oleh Tuhan, maka Rahel berdoa kepada Tuhan  untuk dibukakannya kandungannya. Dan Tuhan mengingatnya. Rahel mengandung dan melahirkan Yusuf yang arti dari nama itu adalah “Mudah-mudahan Tuhan menambahkan seorang anak laki-laki lagi”.

Sejak permulaan sebelum Yusuf lahir maka keluarga orang tua sudah ada permasalahan yang menyakitkan hati. Khususnya ibunya yang direndahkan oleh kakaknya yang sekaligus menjadi madu dari pada ibunya tersebut. Yusuf menjadi anak harapan, karena menjadi sarana Tuhan Rahel diangkat nilainya di mata masyarakat sebagai wanita yang bisa memberikan anak kepada suaminya.

Dari sini kita belajar, bahwa dari sisi manusia keluarga yang penuh dengan persaingan dan masalah, luka melukai antara satu dengan yang lain, pasti menghasilkan anak-anak yang diwarnai  dengan hal-hal yang mendatangkan pergumulan yang berat. Dan memang anak-anak Yakub yang lahir dari Lea banyak kejahatan yang dilakukan. Namun, ternyata Yusuf lahir di tengah-tengah keluarga yang demikian. Yang secara manusia tidak bisa membesarkan dirinya sebagai orang yang bisa menjadi alat kemuliaan Tuhan dan berguna bagi sesama. Namun, karena ibunya takut akan Tuhan dan harapan ibunya hanya kepada Tuhan. Tuhan mengingat anak yang lahir dari seorang ibu yang demikian. Kita tahu cara Tuhan memilih dan membesarkan Yusuf dan kelak menjadi orang yang berguna bagi sesama dan menjadi kemuliaan nama Tuhan.

JIKA SEORANG IBU MENGINGINKAN ANAK YANG DILAHIRKAN BESAR DI HADAPAN TUHAN DAN BESAR DI HADAPAN MANUSIA MAKA DIA HARUS MENJADI SEORANG YANG TAKUT AKAN TUHAN, DAN MENDIDIK ANAK-ANAK YANG DILAHIRKAN TIDAK JAUH SEPERTI APA YANG DILAKUKAN.