Wednesday, September 10, 2014

Pagar Doa - Pudjianto



Suatu peristiwa yang aneh, namun nyata terjadi, jika diceritakan memang banyak orang yang tidak percaya. Walaupun orang tidak banyak  percaya, tetapi itu benar-benar terjadi di dalam kehidupan ini. Itulah yang dialami Bapak Riadi, sebut saja demikian seorang petani  yang tinggal di sebuah desa terpencil di Jawa Tengah.
Pagi itu,  Bapak Riadi seperti biasa sebagai petani datang ke sawahnya, dan betapa hatinya puas karena tanaman cabe itu berbuah lebat. Ia perhitungkan  jika di panen akan bisa 1 ton cabe. Ia sangat  senang karena harga cabe lumayan tinggi.  Tanpa sadar angan-angannya melambung tinggi berapa uang yang akan di terima sekali panen.  Cabe biasanya bisa di panen beberapa kali. Dan seperti biasa di dalam kehidupan di desa, gotong royong adalah merupakan kebiasaan yang masih lekat. Ia minta tolong beberapa tetangganya untuk menolong memetik cabenya yang sudah kemerah-merahan.
Namun, betapa herannya Pak Riadi, ketika melihat hasil dari cabe yang dipanen. Jumlahnya tidak seperti yang dibayangkan, namun hanya beberapa kwintal saja. Jumlah segitu tidak masuk akal, jika melihat luasnya tanaman cabe yang merah-merah. Bahkan para tetangganya yang ikut memetik cabe itu juga heran. Memetik cabe dari pagi sampai hampir petang, hasilnya hanya beberapa kwintal, mereka bayangannya seperti pak Riadi paling tidak 1 ton bahkan bisa lebih. Tetapi pada kenyataannya yang terjadi, hanya 2-3 kwintal saja. Lantas ke manakah yang lain.
***
Malam itu Bapak Riadi tidak bisa tidur, ia tidak bisa mengerti bagaimana mungkin bisa terjadi demikian. Kembali membayangkan cabe yang demikian luas, buahnya begitu banyak. Panen dengan beberapa orang sampai sehari penuh, mestinya tidak hanya kwintalan, namun seharusnya ada 1 ton lebih.
“Belum tidur pak”, demikian kata istrinya mengejutkan Pak Riadi yang membiarkan pikirannya ke mana-mana, khususnya berkaitan dengan tanaman cabe yang barusan di panen.
“Belum bu”, demikian jawab Pak Riadi singkat.
“Apakah bapak masih berpikir tentang tanaman cabe kita itu?”, tanya ibu Riadi.
“Aneh…”, hanya kata itu yang keluar dari mulut Pak Riadi.
“Pak coba bapak perhatikan, apakah bapak mendengar sesuatu?”, demikian tiba-tiba istrinya mengajak mendengarkan sesuatu. Pak Riadi mencoba menajamkan telinganya. Memang tadi tidak memperhatikan apa-apa kecuali, mendengar suara-suara binatang malam yang sudah menjadi kebiasaan berbunyi kalau malam. Setelah menyisihkan semua suara binatang itu lamat-lamat ia mendengar orang sedang menyapu, walaupun suara itu demikian halus sekali.
“Bapak mendengar sesuatu?”, demikian  tanya bu Riadi dengan berbisik. Pak Riadi tidak menyahut namun dia mempertajam pendengarannya, dan di telinganya mendengar orang yang sedang menyapu. Tanpa sadar pak Riadi memandang jam yang tergantung di dinding rumahnya. Jam menunjukkan bahwa malam itu sudah ada di tengah-tengah.
“Bapak sudah mendengar sesuatu?”, demikian ibu Riadi berbisik lagi.  Pak Riadi menarik jari telunjuknya di tempatkan di bibirnya sendiri. Apa yang dilakukan Pak Riadi ini memberi isyarat kepada istrinya untuk diam. Dengan dagunya memberi isyarat kepada istrinya untuk memperhatikan apa yang di dengarnya.
Melihat isyarat Pak Riadi ibu Riadi terdiam, ia tertunduk dan menyedengkan telinganya. Seperti pak Riadi, ibu Riadi mendengarkan orang sedang menyapu, walaupun dilakukan dengan sangat lembut, namun suara sapu lidi itu terdengar sampai di telinganya. Kembali pak Riadi memberi isyarat dengan jari telunjuk yang ditempelkan di bibirnya sendiri, supaya ibu Riadi tidak bersuara. Dengan pelan pak Riadi bangkit dari tempat tidurnya. Dengan berjingkat ia mencoba melihat ke luar benarkah ada orang menyapu di halamannya.
Ternyata suara orang menyapu itu masih tetap ada, bahkan rasanya suara itu mengelilingi rumahnya. Pak Riadi mencoba mencari lobang – lobang di rumahnya untuk bisa melihat keluar apakah benar bahwa di halaman dan keliling rumahnya ada orang yang menyapu. Mengapa halaman dan sekeliling rumahnya ada yang menyapu. Rasanya kemarin  istrinya sudah menyapu, Kembali pak Riadi berjingkat mencoba mengikuti suara orang menyapu tersebut, namun suara itu tiba-tiba hilang.  Dada pak Riadi berdebar-debar, suara orang menyapu itu hilang. Ia mencoba menyedengkan telinganya, dengan menahan nafas tetapi suara orang menyapu itu hilang, dan benar-benar hilang.
Ia kembali  ke kamarnya, istrinya nampak tegang melihat  Pak Riadi berwajah sungguh-sungguh.
“Pak bagaimana?”, demikian istrinya bertanya dengan penuh ketegangan.
“Saya belum menemukan orangnya, tiba-tiba suara sapu itu hilang bu”, demikian kata pak Riadi.
“Bapak sama sekali tidak melihat orangnya?”
Bapak Riadi menggeleng lemah. Melihat  suaminya menggeleng lemah, ibu Riadi menarik nafas dalam-dalam.  Pikiran Pak Riadi kemana-mana, aneh sekali masak tengah malam demikian ada orang yang menyapu halaman rumahnya. Pertanyaan itu bergulung-gulung di hatinya. Ada sesuatu yang tidak wajar terjadi di dalam kehidupannya.
“Kita tidur bu”, demikian kata pak Riadi  berbisik kepada ibu Riadi.
“Mana bisa tidur, coba kita berjaga, mungkin suara itu akan kembali”
“Sudahlah, besuk kita ke sawah lagi, supaya besuk badan kita segar dan bisa bekerja”
Mendengar kata suaminya, ibu Riadi mengangguk. Maka kembali ibu Riadi dengan pelan-pelan berbaring. Namun, di hati ibu Riadi sama dengan pak Riadi, tidak habis mengerti, malam-malam ada suara orang menyapu di halaman rumahnya. Siapakah yang menyapukan halaman rumahnya, mengapa harus tengah malam, kalau memang orang itu ingin membantu menyapu halamannya? Pertanyaan demikian memang berputaran di kepala ibu Riadi.
“Aneh ya pak?”, tiba-tiba  ibu Riadi berbisik kepada suaminya. “Sebelumnya sebenarnya saya sudah mendengar suara orang menyapu. Waktunya ya seperti ini.  Aneh”
“Aneh, apa yang aneh?”
“Orang yang menyapu halaman rumah kita. Mengapa harus tengah malam?”
“Sttt, itu suara orang menyapu, saya belum tahu apakah benar ada orang menyapu atau hanya suara orang menyapu”.
Mendengar kata-kata pak Riadi demikian, ibu Riadi raut mukanya menegang sejenak. Dadanya berdebar-debar.
“Maksud bapak gimana?”
“Kita lihat besuk, apakah masih ada suara orang menyapu itu?”
Mendengar jawaban bapak Riadi demikian ibu Riadi mengangguk. Dan ibu Riadi mencoba memenjamkan matanya, paling tidak bisa menggunakan waktunya untuk bisa istrirahat, setelah beberapa saat terganggu dengan suara orang menyapu.
(Bersambung)
NB:
Setiap orang percaya di beri peringatan  bahwa musuh orang percaya adalah roh-roh di udara oleh karena itu harus kuat iman di dalam Tuhan Yesus Kristus. Di Kitab suci tertulis: “Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara(Efesus 6:10-12).

Friday, September 05, 2014

BISA JADI KITA MENGALAMI KEHILANGAN SEGALA-GALANYA



BISA JADI KITA MENGALAMI KEHILANGAN SEGALA-GALANYA
(Masih merenungi kehidupan Daud)
Pudjianto P.

Menyimak apa yang tertulis di dalam I Samuel 19 awal. Daud ketika itu kehilangan segala-galanya. Ia  putus hubungan dengan Raja Saul, artinya tidak ada lagi sumber kehidupan. Istrinya yang seharusnya sehidup semati dengan dia, malah lebih membela bapaknya dari pada mengikut dia kemana dia pergi. Ketika dia datang ke Nabi Samuel, seorang rohaniawan, di situ juga tidak aman berkaitan dengan nyawanya, sehingga ia juga harus meninggalkannya. Akhirnya pelariannya sampai ketempat orang Filistin, tetapi di tempat musuh ia harus bertindak sebagai seorang gembel, dan memang dia tidak lagi memiliki apapun, bahkan menjadi orang yang terbuang di negeri sendiri, terbuang dari keluarga, terbuang dengan sesamanya. Pada hal dulu dia dipuja puji. Daud benar-benar sudah kehilangan segala-galanya di dalam menjalani kehidupan ini.

Apa yang dialami Daud ini bisa jadi terjadi di dalam kehidupan kita. Kita bisa mengalami hal yang seperti dialami Daud kehilangan segala-galanya. Kehilangan tempat kita bersandar di dalam hidup yaitu pekerjaan kita. Kita ditinggalkan orang yang dekat dengan kita. Rohaniawan yang harapan kita memberikan semangat hidup, malah menjatuhkannya. Kita menjadi orang terbuang, tidak berharga, setiap orang yang memandang kita, hanya memandang dengan sebelah mata. Hal-hal yang dialami Daud demikian ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, di dalam menjalani kehidupan sebagai orang percaya,  demikian seorang pendeta di dalam kotbahnya.

1.      Jangan sampai di dalam menjalani kehidupan itu kita bersandar kepada hal-hal jasmani sampai hal-hal yang jasmani itu menggantikan kedudukan Allah yang mestinya sebagai tempat bersandar kita. Dalam kitab suci tertulis: “Allah yang abadi adalah tempat perlindunganmu, dan di bawahmu ada lengan-lengan yang keka” (Ulangan  33:27).  Lantas ada lagi yang tertulis: “janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan”(Yesaya 41:10).
2.      Kalau sandaran hidup kita hanya hal-hal yang ada dunia ini maka perhatian kita hanya yang ada di dalam dunia ini. Otomatis kalau sudah begitu maka kita akan melupakan Tuhan yang seharusnya menjadi sandaran kita.  Yang   kita ingat uang kita yang ada di bank, pekerjaan kita, kepada orang yang selama ini menjadi sandaran kita. Inilah yang menjadi penyebab lemahnya iman kita.
3.      Semua tempat bersandar yang ada di dalam dunia ini hanya bisa memberikan kenyamanan sementara saja. Misalnya kedudukan, harta yang kita miliki, terlebih sampai bersandar kepada obat-obat terlarang, nyaman hanya sementara.

Apa yang menjadi kotbah pendeta itu cukup mengingatkan kita, supaya kita kembalikan hati kita untuk bersandar kepada Tuhan. Jika kita memiliki kedudukan, harta, atau fasilitas apapun, itu semua adalah merupakan sarana untuk bisa lebih banyak memuliakan namaNya dan memperlebar KerajaanNya.

JANGAN TERJEBAK DENGAN HAL-HAL JASMANI MENJADI TEMPAT PERSANDARAN HIDUP KITA, JANGAN HAL-HAL JASMANI ITU SAMPAI MENGGANTIKAN KEDUDUKAN ALLAH YANG SEBENARNYA MERUPAKAN TEMPAT BERSANDAR YANG TEPAT BUAT KITA.

Monday, September 01, 2014

SIAPAKAH YANG TAHU MASA DEPAN ?


SIAPAKAH YANG TAHU MASA DEPAN?

Merenungkan apa yang tertulis dalam I Samuel 17 akhir sampai dengan pasal 18 awal, timbul pertanyaan dalam hati, “siapakah yang tahu masa depan?”. Seorang anak yang pekerjaannya menggembalakan domba di padang, tidak pernah bergaul dengan para pejabat yang memiliki kedudukan tinggi, tiba-tiba harus datang ke peperangan, dan yang mengherankan bisa mengalahkan musuh Israel yang paling ditakuti seluruh bangsanya.  Dan sudah tentu perjalanan hidup yang demikian tidak pernah terbayang di pikiran seorang yang pekerjaannya menggembalakan domba. Sayang, ketika masih di padang di dalam angan-angan anak ini tidak dituliskan di dalam kitab suci ini. Apa kira-kira yang ada di dalam benaknya sebelum dia mengalahkan orang Filistin itu? Yang jelas pasti tidak pernah membayangkan bahwa pada suatu ketika ia akan masuk ke istana yang menjadi pusat pemerintahan bangsanya. Itulah Daud yang diceritakan dalam pasal tersebut. Terlebih  di dalam angan-angan dalam benak Daud  juga tidak pernah terbayang untuk mendapat penghormatan yang berlebihan dari seluruh penduduk kota Yerusalem, khususnya para wanita. Di dalam kitab suci tertulis: “….dan perempuan yang menari-nari itu menyanyi berbalas-balasan, katanya: "Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa." (I Samuel 18:6). Sudah tentu pujian itu tidak pernah dibayangkan bahwa dirinya akan mendapatkan pujian  demikian, yang sangat menggetarkan dadanya.

Apa yang terjadi di dalam kehidupan Daud memang merupakan pelajaran yang berharga bagi kita. Orang yang hidup di dalam penyerahan kepada Tuhan, tidak perlu kuatir tentang masa depan yang akan dijalani. Dia yang telah memilih kita tidak akan membiarkan kita  hidup jauh dari damai sejahtera. Dia akan menyediakan pertolongan kepada kita yang kadang-kadang pertolongan itu di luar apa yang bisa kita bayangkan. Dalam kitab suci tertulis: “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” (Yermia 29:11).

Melalui firman Tuhan dari Yermia itu sudah selayaknya kita Imani. Jikalau kita sekarang masih dalam situasi yang sulit dan penuh liku-liku. Kita jalani saja, karena perjalanan hidup ini ibarat kita sedang berjalan, kadang kita menghadapi jalan yang berliku yang membutuhkan kosentrasi kita supaya  tidak terjatuh, mungkin juga menanjak yang membutuhkan tenaga yang berlebihan, kadang jalannya begitu halus nyaman dilewati, namun kadang juga begitu sukar yang memerlukan ekstra hati-hati. Namun, semua perjalanan itu kita tahu bahwa terminal terakhir akan menikmati apa artinya kebahagiaan yang sesungguhnya.

ENTAH KELAK JADI SEPERTI APA NAMUN JADI APAPUN DI DALAM PERJALANAN HIDUP KITA PADA AKHIRNYA ADALAH DAMAI SEJAHTERA YANG KITA DAPATKAN