Monday, October 20, 2014

7 Alasan mengapa orang meninggalkan gereja

One disappointment I have had in ministry is watching people come to church, get excited for a time, then disappear. You spend energy and heart on people, grow to love them and get excited about them, and suddenly they are nowhere to be found.
The biggest disappointment is not people who transfer to another church. I’m okay with that if it helps them better grow in their relationship with Christ. I’m talking about people who quit going to church altogether. They are in one day—out the next.
What happens to them? Why do they leave?
I’ve found there are often similar reasons that are repeated continuously. Perhaps you have seen this, too.
Here are 7 reasons people disappear from church:
Burn out - These people came out of the gate too strong in the church. They showed up, got excited, and signed up for everything. They got so busy doing church they failed to enjoy being the church.
Injury - People inside the church can be cruel. I hate when that happens, but it’s true. These people experienced some of those people, and they couldn’t move past it.
Distractions - These people got distracted by seemingly good things. They were playing travel ball, loving the fast life, traveling every weekend. Over time, their lifestyle of attending becomes the habit of not attending.
Life change – These people had a lifestyle change, such as divorce or re-marriage—or they move to a new community—and never re-connect with a church.
Mistakes - These people messed up! They made a mistake that may be public—or at least they feel that it will be known—and the place that should dispense grace appears either refuses it or they feel that it would. Many times when a person feels that way it is more perception than reality, but the way a person feels about themselves may determine whether they remain committed to church.
Power struggle – These people had an agenda. They were pursuing an issue—or a position—and when their demands weren’t met and they couldn’t overpower the system, they left.
Lack of connection – These people never connected with others on a deeper level. As a result, they never felt really a “part” of the church.
Pastors, have you experienced these walking with people in ministry? How do you address these issues?
Obviously, we need to do all we can to help people become disciples. Knowing why they leave may be helpful. We can’t address some of these issues—maybe most—much of this is out of our control. But the more we understand the more we can help people as they experience these.
I think there is also a word here to the one who has disappeared or is on the verge. Beware. If you feel the need for the church in your life—or if you understand the Biblical mandate to be a part of a Body of believers—then guard your heart for these. And help us know how to be a better church. In fact, come help us be a better church. Here’s one pastor (and I know so many others) who is listening.
What other reasons would you add to my list?

Sunday, October 19, 2014

Hindari menabur kedagingan - Pudjianto




TUAIAN  LEBIH DARI PADA YANG DITABUR
(Masih belajar dari kehidupan Daud)

Jikalau seorang petani mendapatkan tuaian hasil yang berlipat-lipat  dari apa yang ditanam maka hatinya akan gembira. Namun, kalau tuaian itu karena taburan  hawa nafsu di masa muda, maka membuat hati hancur berkeping-keping. Itulah yang terjadi pada Daud yang ditulis dalam II Samuel 15. Sudah tentu Daud tidak menyangka putranya sendiri akan  melakukan pemberontakan bahkan merebut tahta anugerah Tuhan itu. Tentu Daud heran,  bahwa Absalom yang dirindukan, dan kepadanya tidak dikenakan hukum  yang sebenarnya ketika melakukan kesalahan pembunuhan terhadap saudaranya, akan  memberontak dan  merebut tahtanya. Mestinya Absalom bersyukur, dan berterima kasih. Namun, yang terjadi malah sebaliknya, dan sudah tentu  tindakan Absalom menghancurkan hatinya, membuatnya hengkang dari istananya.

Sudah pasti Daud tidak menyangka bahwa akibat tidak bisa mengendalikan diri ketika muda, setelah tua harus menuai akibat yang demikian berat. Masa muda demikian sibuk dengan perempuan-perempuan, setelah mereka melahirkan anak-anak baginya, Daud tidak sempat memperhatikan dan mendidik anak-anaknya bagaimana takut akan Tuhan. Dan yang memprihatinkan adalah anak-anak yang tidak mendapat perhatian dari seorang ayah, hidup menurut kebenarannya sendiri. Jika sebagai seorang ayah berlaku demikian, maka anak jangan dituntut bisa menghormati  ayahnya.

Inilah pelajaran yang cukup berarti bagi kita yang saat ini menjadi seorang ayah bagi anak-anak. Anak-anak itu lahir bukan karena keinginannya, mereka merupakan anugerah Allah. Jangan sampai putus komunikasi dengan mereka,  dan sudah selayaknya menjadi figure seorang ayah yang bertanggung jawab, membuat damai keluarga,  penuh kasih, memberi teladan bagaimana takut akan Tuhan dan perhatian terhadap keluarga. Jangan heran jikalau seorang  ayah yang demikian anak akan “MIKUL DHUWUR MENDEM JERO” (peribahasa Jawa, artinya anak akan memuliakan orang tua). Paulus sendiri memberi nasihat kepada seorang ayah: “Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya” (Kolose 3:21).

SUDAH MERUPAKAN HUKUM TABUR TUAI, BAHWA HASIL TUAIAN AKAN LEBIH BANYAK  DARI APA YANG DITABUR. HINDARI MENABUR HAWA NAFSU KEDAGINGAN SUPAYA TIDAK MENUAI KESESAKAN DI MASA TUA.

Thursday, September 25, 2014

LIHAT HIDUPNYA BUKAN CARA MATINYA


LIHAT HIDUPNYA BUKAN CARA MATINYA.
(Masih merenungi yang tertulis I Samuel 31:1-13)

Sebagian orang menilai bahwa seseorang di sananya akan menderita atau akan bahagia bisa dilihat dari cara mati orang tersebut.  Jika orang itu matinya tersia-sia, bahkan dengan wajah yang mengerikan atau ia mati ditabrak mobil sampai tidak bisa dikenali lagi, dll kebanyakan orang menyimpulkan bahwa di alam sana tidak bahagia. Namun, sebenarnya apakah demikian? Bagaimana dengan kematian Tuhan Yesus yang begitu mengerikan. Justru yang terjadi pada Tuhan Yesus dan seharusnya memang harus terjadi demikian, menjadi peluang banyak orang menerima kehidupan yang kekal. Sebuah ilustrasi dari seorang penyiar di Radio:

Seorang pelayan dimintai tolong majikannya untuk belanja ke pasar. Tidak menyangka  ketika dia sedang asyik berbelanja, bahunya di sentuh oleh seseorang. Ia kaget, dan ketika mencari siapa yang menyentuh bahunya, darahnya tersirat, ia berdiri terjajar, ketakutan meliputi hatinya,  karena yang menyentuh adalah wanita cantik yang namanya kematian. Wanita itu tersenyum, walaupun senyum itu menawan, namun menyiratkan sebuah kematian. Dengan gemetar, pelayan itu mencoba  menjauh dari wanita tersebut dan segera menyelinap diantara orang banyak langsung pulang. Setelah di rumah ia menjumpai majikannya.

“Tuan, saya pinjam kudanya, saya akan pergi ke Samarra, supaya saya tidak berjumpa dengan wanita ayu di pasar tadi”.

Majikannya memberikan pinjaman  kuda, dan pelayan itu segera pergi ke kota Samarra. Majikannya itu segera pergi ke pasar untuk menjumpai wanita yang disebut kematian itu, dan ternyata wanita itu masih ada di sana. Majikan itu langsung bertanya:
“He kenapa kamu tadi pagi memberikan isyarat yang menakuti pelayanan saya”

“Itu bukan isyarat yang menakutkan”, demikian jawabnya. “Itu hanya permulaan dia kaget. Saya kaget ketika bertemu di Bagdad, pada hal janjian bertemunya di kota Samarra. Tetapi sebenarnya di kota Samarra itu di sana akan berbahagia, dan penuh sukacita bukan ketakutan, asal dia tetap di dalam hidupnya bersandar kepada Yang memegang kunci kematian dan Kehidupan.”

Dari ilustrasi tersebut kita bisa memetik pelajaran, bahwa kematian itu kemanapun kita pergi, kematian juga ada di sana. Artinya kematian itu tidak bisa kita hindari, siapapun, kedudukan apapun di dunia ini akan mengalami apa yang disebut kematian. Orang tidak bisa lari dari hal ini. Namun, suatu berita yang sangat baik adalah bahwa orang yang percaya pada Tuhan Yesus, maka  orang itu diberi hidup baru, dan kematian adalah merupakan gerbang untuk memasuki kebahagiaan dan kesukacitaan sejati. Dia dan orang yang percaya kepadaNya akan di berada di sana. Itulah sebabnya Paulus menulis:

“Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal” (II Korintus4:16-18).

JANGAN TAKUT TERHADAP KEMATIAN, NAMUN JIKA KITA MASIH DIBERI HIDUP ADALAH KESEMPATAN UNTUK MEMBANGUN MONUMEN ROHANI, YANG TIDAK LAYU KETIKA TERTIMPA PANAS DAN TIDAK LENYAP KETIKA TERTIMPA PRAHARA. KEMATIAN BAGI ORANG PERCAYA BAGAIMANAPUN CARANYA ADALAH BERHARGA DI MATA ALLAH.