Monday, September 15, 2008

DISGRAFIA PADA ANAK YANG KESULITAN MENULIS DAN SOLUSINYA

KabarIndonesia -- Kesulitan belajar pada anak, bila tidak dideteksi
secara dini dan tidak dilakukan terapi yang benar, bisa menyebabkan
kegagalan dalam proses pendidikan anak. Kepedulian orang tua yang
tinggi dapat membantu dalam deteksi dini kesulitan belajar anak.

Riwayat penyakit terdahulu, seperti anak pernah mengalami sakit
keras hingga demam tinggi, atau anak terlahir prematur, merupakan
faktor risiko terjadinya kesulitan belajar. Gangguan berat akan
mudah teridentifikasi, sehingga dapat terdeteksi pada usia dini.
Sedangkan pada anak dengan gangguan ringan, mungkin baru
teridentifikasi saat usia sekolah.

Peran dokter anak pada gangguan kesulitan belajar, terutama
ditujukan untuk mendeteksi tumbuh kembang anak sesuai dengan tahapan
usianya. Umumnya, anak yang berusia 2 atau 3 tahun belum belajar
menulis, namun telah menyukai kegiatan menulis walaupun hanya
sekadar coretan yang belum bermakna. Ketika memasuki usia sekolah,
kegiatan menulis merupakan hal yang menyenangkan karena mereka
menyadari bahwa anak yang bisa menulis akan mendapatkan nilai baik
dari gurunya.

Menulis membutuhkan perkembangan kemampuan lebih lanjut dari
membaca. Perkembangan yang dikemukakan oleh Temple, Nathan, Burns;
Cly: Ferreiro dan Teberosky dalam Brewer (1992) oleh Rini Hapsari:

1. Scribble stage.
Tahap ini ditandai dengan mulainya anak menggunakan alat tulis
untuk membuat coretan. Sebelum ia belajar untuk membuat bentuk,
huruf yang dapat dikenali.

2. Linear repetitive stage.
Pada tahap ini, anak menemukan bahwa tulisan biasanya berarah
horisontal, dan huruf-huruf tersusun berupa barisan pada halaman
kertas. Anak juga telah mengetahui bahwa kata yang panjang akan
ditulis dalam barisan huruf yang lebih panjang dibandingkan
dengan kata yang pendek.

3. Random letter stage.
Pada tahap ini, anak belajar mengenai bentuk coretan yang dapat
diterima sebagai huruf dan dapat menuliskan huruf-huruf tersebut
dalam urutan acak dengan maksud menulis kata tertentu.

4. Letter name writing, phonetic writing.
Pada tahap ini, anak mulai memahami hubungan antara huruf dengan
bunyi tertentu. Anak dapat menuliskan satu atau beberapa huruf
untuk melambangkan suatu kata, seperti menuliskan huruf depan
namanya saja, atau menulis "bu" dengan sebagai lambang dari
"buku".

5. Transitional spelling.
Pada tahap ini, anak mulai memahami cara menulis secara
konvensional, yaitu menggunakan ejaan yang berlaku umum. Anak
dapat menuliskan kata yang memiliki ejaan dan bunyi sama dengan
benar, seperti kata "buku", namun masih sering salah menuliskan
kata yang ejaannya mengikuti cara konvensional dan tidak hanya
ditentukan oleh bunyi yang terdengar, seperti hari "sabtu" tidak
ditulis "saptu", padahal kedua tulisan tersebut berbunyi sama
jika dibaca.

6. Conventional spelling.
Pada tahap ini, anak telah menguasai cara menulis secara
konvensional, yaitu menggunakan bentuk huruf dan ejaan yang
berlaku umum untuk mengekspresikan berbagai ide abstrak.

Pada anak usia sekolah, perkembangan menulis telah berada pada tahap
terakhir, yaitu "conventional spelling". Selain telah dapat menulis
dengan huruf dan ejaan yang benar, anak pada usia kelas dua SD telah
memerhatikan aspek penampilan visual mereka.

Beberapa anak mengalami gangguan dalam menulis. Kesulitan menulis
ini disebut "disgrafia". Ada beberapa ciri khusus anak dengan
gangguan disgrafia, di antaranya adalah:

1. Terdapat ketidakkonsistenan bentuk huruf dalam tulisannya;
2. Saat menulis, penggunaan huruf besar dan huruf kecil masih
tercampur;
3. Ukuran dan bentuk huruf dalam tulisannya tidak proporsional;
4. Anak tampak harus berusaha keras saat mengomunikasikan suatu ide,
pengetahuan, atau pemahamannya lewat tulisan;
5. Sulit memegang bolpoin maupun pensil dengan mantap -- caranya
memegang alat tulis sering kali terlalu dekat, bahkan hampir
menempel dengan kertas;
6. Berbicara pada diri sendiri ketika sedang menulis, atau malah
terlalu memerhatikan tangan yang dipakai untuk menulis;
7. Cara menulis tidak konsisten, tidak mengikuti alur garis yang
tepat dan proporsional; dan
8. Tetap mengalami kesulitan meskipun hanya diminta menyalin contoh
tulisan yang sudah ada.

Teori konstruksi sosial Vygotsky (Santroks:2004) memiliki tiga
asumsi, yaitu:

1. kemampuan kognitif anak dapat dipahami hanya ketika mereka mampu
menganalisa dan menginterpretasikan sesuatu;
2. kemampuan kognitif anak dimediasi oleh penggunaan bahasa atau
kata-kata sebagai alat untuk mentransformasi dan memfasilitasi
aktivitas mental; dan
3. kemampuan kognitif berkaitan dengan hubungan sosial dan latar
belakang sosial budaya.

Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut, Vygotsky mengemukakan tiga
konsep belajar sebagai berikut.

1. Zone of Proximal Development (ZPD), yaitu suatu wilayah (range)
antara level terendah, yaitu kemampuan yang dapat diraih anak
jika tanpa bimbingan, hingga level tertinggi, yaitu kemampuan
yang dapat diraih anak jika dengan bimbingan.
2. Scaffolding, yaitu teknik untuk mengubah tingkat dukungan.
3. Language and thought.

Aplikasi teori Vygotsky dapat digunakan guru dan orang tua untuk
membantu anak yang mengalami disgrafia.

Langkah-langkah yang dapat dilakukan meliputi:

1. Mengidentifikasi masalah disgrafia, terdiri dari:
a) masalah penggunaan huruf kapital,
b) ketidakkonsistenan bentuk huruf,
c) alur yang tidak stabil (tulisan naik turun), dan
d) ukuran dan bentuk huruf tidak konsisten.

2. Menentukan ZPD pada masing-masing masalah tersebut.
a) ZPD untuk kesalahan penggunaan huruf kapital.
b) ZPD untuk ketidakkonsistenan bentuk huruf.
c) ZPD untuk ketidakkonsistenan ukuran huruf.
d) ZPD untuk ketidakstabilan alur tulisan.

3. Merancang program pelatihan dengan teknik scaffolding. Teknik
scaffolding dalam pelatihan ini meliputi tahapan sebagai berikut.
a. Memberikan tugas menulis kalimat yang didiktekan orang
tua/guru.
b. Bersama-sama dengan siswa mengidentifikasi kesalahan tulisan
mereka.
c. Menjelaskan mengenai pelatihan dan ZPD masing-masing
permasalahan.
d. Menjelaskan kriteria penulisan yang benar dan meminta anak
menyatakan kembali kriteria tersebut.
e. Memberikan latihan menulis dengan orang tua/guru memberikan
bantuan.
f. Mengevaluasi hasil pekerjaan siswa bersama-sama dengan anak.
g. Memberikan latihan menulis dengan mengurangi bantuan terbatas
pada kesalahan yang banyak dilakukan anak.
h. Mengevaluasi hasil pekerjaan bersama-sama dengan anak.
i. Memberikan latihan menulis tanpa bantuan orang tua/guru.
j. Mengevaluasi pekerjaan anak.

Pelatihan tersebut diulang-ulang pada tiap-tiap kesalahan disgrafia
yang dialami anak hingga terdapat perubahan.

Referensi:

Santrock, John W. "Educational Psychology". McGraw-Hill Companies.

Hernowo. "Mengimpikan Buku Pelajaran yang Mampu, Menyenangkan dan
Menyalakan Otak". Disampaikan pada Seminar "Menggagas Buku Pelajaran
yang Mencerdaskan", 15 Agustus 2006, Penyelenggara Direktorat
Pendidikan Madrasah, Ditjen Pendidikan Islam, Departemen Agama,
Jakarta.

Soedijarto. "Mana Lebih Penting, Pendidikan Dasar atau Lanjutan?"
Tabloid Nakita No. 266/VI/8 Mei 2004.

"Penilaian Perkembangan Anak Didik di TK". Dalam Jurnal Pendidikan
dan Kebudayaan Disdik Prop. Banten Edisi keempat TH.III Vol.IV/2003.

Sekartini, Rini. "Hal-Hal yang Sepatutnya Dikuasai Balita". Tabloid
Nakita No. 203/IV/22 Februari 2003.

Bahan diambil dan disunting seperlunya dari:
Nama situs: KabarIndonesia.com
Penulis: Intan Irawati
Alamat URL: http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=20&dn=20080718135102

No comments: